Pelaksanaan buka puasa dalam Safari Dakwah Dzulhijjah yang dilaksanakan Yayasan Tajdidul Iman (YTI) hari ke tujuh di masjid Ar Rahman jalan Ance daeng Ngoyo kelurahan Masale, Panakkukang, kota Makassar Ahad (24/5/2026), dipenuhi lebih ratusan jamaah. Hal ini diluar perkiraan pengurus masjid tersebut.
Dari pantauan wartawan media ini, menjelang buka puasa, para jamaah yang tidak mendapat tempat di dalam masjid, karena terlambat datang, harus rela berada di teras masjid untuk berbuka.
Hal ini juga berlangsung saat shalat Maghrib berlangsung Shaff jamaah pria bahkan mencapai teras masjid. “baru kali ini terjadi” ungkap salah satu jamaah yang berada di shaf paling belakang.
Menyikapi hal tersebut, beberapa kali pengurus masjid Ar Rahman, bernama Hamdani Harun meminta maaf melalui pengeras suara.
“Kami tidak menyangka jumlah jamaah yang mengikuti kegiatan ini sangat banyak, sehingga kami tidak bisa menyiapkan apa-apa. Dan atas nama pengurus masjid, kami mohon maaf yang sebesar besarnya” kata Handani.
Dia menambahkan, jauh sebelum Safari Dakwah tersebut dilaksanakan, pengurus masjid sudah meminta kepada pembina YTI, KH Sudirman agar masjid Ar Rahman, juga didaftar sebagai tempat kegiatan buka puasa Dzulhijjah YTI.
“Satu bulan sebelum acara ini digelar, kami sudah meminta kepada pak Kiai Sudirman agar masjid Ar Rahman ikut di jadwalkan pada hari ke 7 untuk buka puasa Safari Dzulhijjah” katanya..
Namun ia tidak menyangka dengan jumlah peserta yang sangat banyak, sehingga membuat remaja masjid yang tergabung dalam Ikrar (Ikatan Remaja Ar Rahman) kewalahan dalam memberi pelayanan maksimal.
“Olehnya itu kami meminta maaf yang sebesar besarnya, Dan semoga pada tahun depan Insya Allah kami akan mempersiapkan acara buka puasa ini jauh lebih baik lagi” tandasnya.
Seperti hari hari sebelumnya, saat membawakan kajian Dzulhijjah, Kiai Sudirman kembali mengupas masalah Aqidah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim AS kepada keluarga dan seluruh pengikutnya.
Pada kajian tersebut, Kiai mengangkat thema Keluarga Mulia dan Teladan Dibangun diatas Pondasi Tauhid . Keluarga Nabi Ibrahim As adalah prototipe keluarga ideal karena dibangun sepenuhnya di atas pondasi tauhid. Ketaatan total kepada Allah SWT .
“Hal ini menjadi pedoman utama bagi keluarga nabi Ibrahim As dalam menghadapi berbagai ujian, mulai dari perintah meninggalkan keluarga di lembah tandus hingga ujian pengorbanan anaknya, nabi Ismail AS yang akan disembelih” Jelas Kiai Sudirman.
Makanya tambah Kiai, untuk membangun pondasi keimanan berlandaskan Tauhid tersebut, diperlukan pemahaman yang serius dan kuat dari jamaah selama 9 hari, dibulan Dzulhjjah 1447 H ini.
“Sehingga pada 11 bulan kedepan kita mampu menghadapinya dengan modal Aqidah dan keimanan yang kita dapatkan dari mengikuti Safari dakwah Dzulhijjah selama 9 hari ini” tandasnya. (*)





















