Dalam rangka memenuhi kebutuhan material pemasangan dinding masjid Agung Tajdidul Iman yang terletak di dusun Mangempang, Desa Moncongloe Lappara, kabupaten Maros, panitia Safari Dakwah Dzulhijjah (SDD) menggelar penggalangan dana yang bersumber dari para donatur dan mengedarkan kotak infak (celengan) sejak kegiatan tersebut berlangsung Senin (18/5) hingga Selasa (26/5) di 9 Masjid berbeda se kota Makassar.
Hasilnya, panitia SDD berhasil mengumpulkan dana hingga menembus angka Rp100 Juta lebih. Hal ini diungkapkan pembina sekaligus pendiri Yayasan Tajdidul Iman (YTI) KH. Sudirman. S.Ag, di Makassar beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah sejak SDD ini kami gelar dihari pertama, hingga saat ini, ada banyak dukungan dari berbagai pihak, utamanya para tokoh politik. Birokrat, para pengusaha dan jamaah Tajdidul Iman yang angkanya sudah menembus lebih dari 100 juta rupiah.” Kata Kiai Sudirman.
Angka tersebut sudah melampaui target panitia, “Nah.. kita berharap dengan dana tersebut, maka masjid Agung yang sudah berfungsi dilaksanakannya shalat 5 waktu, shalat Jumat, dan tarwih sudah bisa dibanguni dinding (selama ini hanya berupa seng-red) kiri dan kanan serta belakang masjid” ujar Kiai.
Setelah itu, Kiai berharap, masjid tersebut bakal diresmikan oleh bupati Maros, “Saat kami audencie dengan beliau beberapa waktu lalu, kami sudah usulkan ke beliau (bupati-red) agar dapat meresmikan masjid ini, dan beliau menyatakan siap. Nanti kita cari moment atau waktu yang tepat untuk peresmian, itupun setelah dinding masjid sudah terpasang.” Jelas Kiai Sudirman.
Selanjutnya sambung Kiai Sudirman, juga akan dibangun rumah imam dan rumah percontohan di kompleks tersebut. “Sehingga dengan selesainya masjid dan rumah contoh tersebut, kami berharap jamaah binaan Tajdidul Iman dari Makassar dan Gowa, bisa hijrah ke dusun Mangempang, yang akan kita jadikan pusat dakwah Tajdidul Iman nantinya” harap Kiai Sudirman.
Wacana ini, kata kiai, sebagaimana telah dicontohkan para sahabat yang seteah membina Aqidahnya di Mekkah dan dianggap sudah mantap maka mereka mempraktekkannya di Madinah.
“Proses pembinaan aqidah para sahabat di Makkah dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW secara bertahap selama kurang lebih 13 tahun. Tahapan utama berpusat pada penanaman tauhid. Begitun kami berharap dari kegiatan Safari Dzulhijjan 9 hari ini, harus ada tindak lanjut kearah perjuangan dan pengorbanan dan kami berharap masjid Agung TI ini akan menjadi pusat dakwah kita, (setelah mantapnya aqidah-red)”
Kiai Sudirman juga mengambarkan adanya Masjid Quba sebagai masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke 1 Hijriah (sekitar 622 Masehi -red), tepatnya ketika beliau dalam perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah, telah menjadi symbol perjuangan dakwah Nabi SAW bersama para sahabat dan pengikutnya.
“Tentu kami berharap hal yang sama. dengan membina aqidah yang baik, maka jamaah Tajdidul Iman itu akan kokoh dalam berjuang, sabar dalam menerima tantangan dan memiliki visi dan misi jangka panjang seperti para sahabat yang menata kota Madinah, dengan landasan Tauhid dan ketulusan dalam berjuang dan berkorban dengan harta dan diri kita” tandas Kiai Sudirman. (*)





















