Bertempat di masjid Jabal Nur jalan Kebangkitan Maccini, kota Makassar, pendiri sekaligus pembina yayasan Tajdidul Iman (YTI), KH. Sudirman, S.Ag mengupas masalah wanita seperti yang dicontohkan dua istri Nabi Ibrahim AS.
Keduanya adalah Siti Sarah yang merupakan Istri Pertama sebagai Ummul Anbiya, atau Ibunya para Nabi dan kedua adalah Siti Hajar sebagai Muhaddatsah, dengan gelar utama Ummul Isma’il (Ibu Nabi Ismail AS).
“Dihari ke 6 Safari Dzulhijjah ini sengaja kami angkat thema Wanita Hebat Bukan tanpa Ujian, Tapi Tahan Ujian kenapa pakai kata wanita? Sebab kesuksesan nabi Ibrahim AS itu karena adanya kedua sosok wanita tersebut sebagai ibunya kaum Mukminin se dunia,” ungkap Kiai Sudirman dihadapan sekitar 100 orang lebih jamaah yang memadati masjid tersebut.
Baik siti Sarah maupun Hajar, sambung Kiai Sudirman, keduanya adalah pahlawan pahlawan wanita yang sangat dimuliakan hingga saat ini, karena keduanya juga memuliakan laki laki mulia bernama Nabi Ibrahim AS.
“Jadi mari kita belajar kepada kedua wanita tersebut. Meski keduanya di uji bertubi tubi oleh Allah SWT, namun keduanya tetap tenang, sabar dan ikhlas mendampingi nabi Ibrahim AS untut terus berdakwah” jelas Kiai
Siti Sarah, kata Kiai dikenal sebagai simbol kesabaran dan keikhlasan, yang akhirnya mendapat mukjizat dan kabar gembira langsung dari malaikat bahwa ia akan melahirkan Nabi Ishaq di usia senjanya.
Kedua adalah Siti Hajar yang juga bergelar Ummul Isma’il atau Ibu dari Nabi Ismail, AS. Julukan: Diberkahi julukan Muhaddatsah, yakni wanita yang sering diajak bicara atau mendapat ilham langsung dari malaikat. Beliau juga merupakan sosok utama di balik pensyariatan ibadah Sa’i (berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah) dan penemu mata air Zamzam.
“Tidak ada laki laki hebat kalo tidak ada wanita hebat dibelakangnya, begitupula sebailknya. Maka Insya Allah pada tanggal 10 Dzulhijjah mendatang, kita akan kembali merasakan kehebatan seorang wanita bernama Siti Hajar yang tegar mendampingi anaknya saat akan disembelih bapaknya (Nabi Ibrahim AS). Ini yang saya anggap luar biasa,” urai Kiai.
Kekaguman Kiai pada sosok Siti Hajar, adalah saat ia ikut mendampingi suaminya Nabi Ibrahim hijrah dari tanah kelahirannya di Babilonia (Irak) menuju negeri Syam atau Palestina yang jaraknya ribuan kilometer tanpa kendaraaan, dan hanya berjalan kaki.
“Coba kita renungkan… beliau ikhlas menemani suaminya nabi Ibrahim AS berjalan kaki ribuan kilo, tanpa bertanya mau dibawa kemana dirinya kecuali Sami’na Watho’na. Perjalanan yang sangat jauh, lintas negara tidak pakai pesawat, tidak pakai bus tidak ada mobil….”kata Kiai Sudirman.
Makanya, Kiai berpesan agar ajaran Aqidah yang selama ini diajarkan Nabi Ibrahim AS, agar bisa menjadi pedoman kita selepas bulan Dzulhijjah ini, menuju 11 bulan selanjutnya.
“Aqidah adalah mesin penguat dalam diri kita yang membuat kita bertahan di hidup yang mungkin tidak nyaman. Dengan aqidah maka kita bisa menikmati hidup, meskipun tidak senikmat yang dimiliki orang lain. Aqidah kita tidak akan membuat kita mundur dalam berjuang. Dan aqidah akan menghasilkan energy syukur dan bersabar menghadapi ujian yang diberikan kepada kita”
Selain itu, sambung Kiai Sudirman, Aqidah akan membuat luka dikehidupan akan cepat sembuh dan tidak bernanah. Aqidah akan membuat kita bisa menerima pasangan hidup kita untuk setia hingga akhir
“Tidak ada dusta diantara kita, kenapa? Karena kita menerima dengan aqidah bukan dengan perasaan. Dan terakhir aqidah yang akan membuat kita sadar bahwa ada takdir, sehingga kita akan tenang menikmati setiap episode kehidupan yang telah di takdirkan Allah SWT,” kunci Kiai Sudirman (*)




















