- Tidak harus berwudhu setelah mandi. (HR. Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah dari ‘Aisyah)
- Jika berkumpul dua perkara yang mewajibkan mandi, seperti haid dan junub, atau junub dan mandi Jum’at, maka sudah sah mandi sekali saja, jika ia meniatkan keduanya sekaligus. (Jumhur dalam Kitab al-Mughni)
- Jika seorang wanita sedang junub, lalu ia haid sebelum mandi, menurut pendapat yang paling shahih, ia tidak wajib mandi junub. (Mahdzab Ahmad)
- Seorang laki-laki boleh mandi dari sisa air wanitanya. (Ahkam al-Miyah)
- Suami boleh madi bersama istrinya, keduanya boleh saling melihat aurat pasangannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
- Tidak boleh mandi telanjang di depan orang lain. (HR. Bukhari dan Muslim)
- Orang yang berhadas ketika mandi hendaklah ia menyempurnakannya, tidak perlu mengulanginya. (Jumhur Ulama, dipilih Atha’, ats-Tsauri, Mahdzab Syafi’I, Ibnu Qudamah, dan Ibnu Mudzir)
- Rukun Mandi Wajib
a. Berniat (tempatnya dalam hati). (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab)
b. Membasuh seluruh anggota tubuh. (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah dan Maimunah)
Diringkas Dari:
1. Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fii Fiqhil Kitaab was Sunnah al-Muthah-harah (Karya Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah)
2. Shalatul Mu’min Mafhuum wa Aadaab wa Anwaa wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitaab wa Sunnah (Karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani)
3. Shahih Fiqh as-Sunnah Wa Adillatuhu wa Taudhih Madzhab al-A’immah (Karya Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















