Pendapat pertama: Tidak Boleh
Dalil:
اِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَاَشْرِبُوْا اَعْيُنَكُمْ مِنَ الْمَاءِ وَلاَ تَنْفُضُوْا اَيْدِيْكُمْ مِنَ الْمَاءِ
“Apabila kalian berwudhu siramlah mata kalian dengan air dan janganlah kalian keringkan tangan kalian dari air.” (HR. Abu Hatim)
CATATAN: Hadits ini tidak sah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan Abu Hatim sendiri menganggap hadits ini munkar dan tertolak.
Pendapat kedua: Makruh
Dalil:
مَيْمُونَةُ قَالَتْ صَبَبْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُسْلًا فَأَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى يَسَارِهِ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ ثُمَّ قَالَ بِيَدِهِ الْأَرْضَ فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ ثُمَّ غَسَلَهَا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَأَفَاضَ عَلَى رَأْسِهِ ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أُتِيَ بِمِنْدِيلٍ فَلَمْ يَنْفُضْ بِهَا
Maimunah berkata, “Aku menuangkan air untuk mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada tangan kirinya lalu membasuh keduanya. Kemudian mencuci kemaluannya, lalu menyentuhkan tangannya ke bumi dan mengusapnya dengan tanah, lalu mencucinya dengan air. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, kemudian membasuh muka dan menyiramkan air ke atas kepalanya. Kemudian beliau bergeser untuk mencuci kedua telapak kakinya. Setelah itu beliau diberi handuk, tapi beliau tidak mengeringkan badannya dengan handuk tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
CATATAN: Hadits ini shahih namun Nabi tidak melakukannya bukan berarti tidak boleh tetapi mungkin saja tidak dibutuhkan.
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالْمِنْدِيْلِ بَعْدَ الْوُضُوْءِ وَلاَ اَبُوبَكْرٍ وَلاَ عُمَرُ وَلاَ عَلِيُّ وَلاَ ابْنُ مَسْعُودٍ
“Dari Anas, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak pernah menyapu wajahnya dengan handuk sesudah berwudhu, dan tidak juga Abu Bakar, tidak juga Umar, tidak juga Ali, dan tidak juga Ibnu Mas’ud” (HR. Ibnu Syahien)
CATATAN: Riwayat di atas lemah, tidak dapat menjadi hujjah (alasan).
عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: اِنَّمَا كُرِهَ الْمِنْدِيْلُ بَعْدَ الْوُضُوْءِ لِاَنَّ الوُضُوْءَ يُوزَنُ
“Dari Zuhri, ia berkata: Sesungguhnya dibenci menggunakan handuk sesudah berwudhu, karena wudhu itu akan ditimbang.” (HR. Tirmidzi)
CATATAN: Riwayat ini bukan sabda Nabi tetapi perkataan Imam Az-Zuhri, tidak ada kewajiban meyakininya.
Pendapat Ketiga: Boleh
Dalil:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَنَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِرْقَةٌ يَسْتَنْشِفُ بِهَا بَعْدَ الْوُضُوءِ
“Dari Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan selembar kain untuk mengeringkan anggota tubuhnya sesudah dia berwudhu.” (HR. Tirmidzi dan al-Hakim)
عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَقَلَبَ جُبَّةَ صُوفٍ كَانَتْ عَلَيْهِ فَمَسَحَ بِهَا وَجْهَهُ
“Dari Salman al-Farizi, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu lalu dia membalikkan jubah bulu yang dia pakai, kemudian dia sapu wajahnya dengan jubah tersebut.” (HR. Ibnu Majah dengan Sanad yang Shahih)
CATATAN: Hadits ini hasan dan bolehnya jika dibutuhkan.
KESIMPULAN: DARI TIGA PENDAPAT DI ATAS MAKA PENDAPAT YANG KETIGA LEBIH MENDEKATI KEBENARAN, INSYA ALLAH.
Diringkas dari:
Soal Jawab Berbagai Macam Masalah I-II (Karya A. Hassan) dengan Bebebrapa Tambahan
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















