Kegiatan ke V, pelatihan pengurusan jenazah muslim tahun 2026, yang diselenggarakan pemerintah kota Makassar melalui bagian kesra, dikupas tuntas KH. Sudirman, S.Ag, salah satu ulama yang telah memiliki kredibilitas dan pengalaman memandikan jenazah sejak tahun 90-an silam hingga saat ini.
Dihadiri tidak kurang 100 orang peserta yang berasal dari kelurahan Tamalabba, kelurahan Pattingaloang dan Pattingaloang Baru kecamatan Ujung Tanah di masjid Nurun Nubuwah jalan Sabutung Makassar Kamis, (23/7/2026) pagi, Kiai Sudirman membeberkan pengurusan jenazah, dimulai dari talqin hingga memasukkan jenazah ke liang lahat.
“Setelah salah satu keluarga kita dinyatakan telah meninggal dunia, maka kewajiban kita adalah membersihkan tubuh jenazah tersebut dengan baik dan bersih. Biasanya orang mengatakan kegiatan ini sebagai mandi salah sebelum memandikan jenazah.” ungkap Kiai.
Disaat mandi salah ini, sambung kiai, kewajiban keluarga membuka baju dan celana jenazah, lalu membersihkan kemaluan serta duburnya dan mengelap keringat jenazah dengan handuk.
“Perut si mayat kita pijat perlahan, agar kotoran yang tersisa dapat keluar semua. Begitupula dengan gigi palsunya, kita cabut kecuali gigi tanam. Mandi salah bukan berarti kita siram seluruh tubuh jenazah dengan air, bukan begitu, tetapi cukup hal hal tertentu saja yang kita bersihkan termasuk memotong kuku dan kumis jenazah jika ada.” Kata Kiai.
Setelah itu, sambung Kiai Sudirman, jenazah lalu diberi parfum ke seluruh tubuhnya, “jika mulutnya masih menganga maka, kita ikat dengan kain dan menutup jenazah tersebut dengan kain panjang. Nah saya sarankan agar setiap rumah tangga muslim menyiapkan kain panjang yang keberadaannya harus di ketahui seluruh keluarga. Agar tidak kewalahan mencari jika sewaktu waktu ada salah satu keluarga yang meninggal dunia” terang Kiai Sudirman.
Maka dengan hal tersebut, siapapun yang datang melayat, kata Kiai, akan terkesima, karena jenazah sudah bersih walau belum dimandikan; “Nah mandi jenazah atau memandikan mayat adalah kewajiban fardu kifayah dalam Islam yang dilakukan dengan niat ikhlas, menutupi aurat, dan meratakan air suci ke seluruh tubuh jenazah. Dengan alat alat yang harus disiapkan” kata Kiai Sudirman.
Adapun alat-alatnya adalah, timba, sabun cair, shampoo, potong kuku masker, kaos tangan, kapur barus, benang dan jarum, kain kasa sebagai penganti sikat gigi, sisir dan gunting, handuk serta kapas.
Kegiatan ini ditutup dengan memperagakan menutup jenazah dengan kain kafan dan penyelenggaraan jenazah dengan benar. “Perbedaan utama kain kafan pria dan wanita terletak pada jumlah serta bentuk potongan kainnya, di mana jenazah pria memerlukan 3 lapis kain lembar utuh, sedangkan perempuan memerlukan 5 lembar kain yang terdiri dari lembaran penutup, baju, dan kerudung.”tandas Kiai Sudirman.
Dalam kegiatan tersebut juga dihadiri sekretaris DKM masjid Nurun Nubuwah, ustad Ikhwan Muin yang bersyukur adanya kegiatan edukasi bagi warga Ujung Tanah dilaksanakan di masjid tersebut. Hadirpula sejumlah tokoh masyarakat dan Babinkamtibmas. (tim)






















