Hukum mandi Jum’at adalah wajib, berdasarkan dalil-dalil:
1. Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
غُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.” (HR. Bukhari no. 879 dan Muslim no. 846)
2. Hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَاءَ مِنْكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ
“Barangsiapa di antara kamu yang mendatangi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi (terlebih dahulu).” (HR. Bukhari (II/6) dan Muslim no. 844)
3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَغْسِلُ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ
“Setiap muslim wajib mandi sekali sepekan, ia mencuci kepala dan tubuhnya.” (HR. Bukhari (II/318) dan Muslim no. 849)
4. Hadits Tsauban radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ السِّوَاكُ وَ غُسْلَ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَيَمَسُّ مِنْ طِيبِ أَهْلِهِ إِنْ كَانَ
“Setiap Muslim wajib bersiwak, mandi hari jum’at, dan memakai wewangian keluarhanya, jika ia punya.” (HR. Ahmad (IV/34))
5. Hadits Hafshah Radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ رَوَاحٌ إِلَى الْجُمُعَةِ وَعَلَى كُلِّ مَنْ رَاحَ إِلَى الْجُمُعَةِ أَنْ يَغْتَسِلَ
“Setiap orang yang sudah baligh wajib menghadiri shalat Jum’at, dan setiap orang yang menghadiri shalat Jum’at ajib mandi.” (HR. Abu Dawud no. 338, an-Nasa’i (III/89), Ahmad (III/65))
6. Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Ia berkata, “Kami diperintahkan untuk mandi pada hari Jum’at, agar kami tidak berwudhu dari bersetubuh.” (HR. Abu Bakar al-Maruzi dalam al-Jumuah wa Fadhluha)
Hukum mandi Jum’at adalah mustahab bukan wajib, berdasarkan dalil-dalil:
1. Hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu anhu secara marfu’:
مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
“Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat Jum’at, maka itu sudah mencukupi dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih afdhal.” (HR. Abu Dawud no. 354, an-Nasa’i (III/94), Tirmidzi no. 497) dan selain mereka, hasan menurut Syaikh al-Albani)
2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
“Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian mendatangi shalat Jum’at, lalu ia menyimak dan diam, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum’at ini dengan Jum’at berikutnya, ditambah tiga hari.” (HR. Muslim no. 857, Tirmidzi no. 498 dan selainnya)
Diringkas Dari:
1. Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fii Fiqhil Kitaab was Sunnah al-Muthah-harah (Karya Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah)
2. Shalatul Mu’min Mafhuum wa Aadaab wa Anwaa wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitaab wa Sunnah (Karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani)
3. Shahih Fiqh as-Sunnah Wa Adillatuhu wa Taudhih Madzhab al-A’immah (Karya Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















