Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ … (22)
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka… (QS. Al-Mujadilah[58]: 22)
Petunjuk-petunjuk Ayat di Atas:
1. Tidaklah menyatu antara orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dengan orang yang menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Tidaklah seorang hamba beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Hari Akhir dengan sebenarnya melainkan pasti melaksanakan tuntutan dan keharusan iman yaitu mencintai dan loyal terhadap orang yang beriman dan membenci orang yang tidak beriman dan memusuhinya meski terhadap orang yang dekat sekalipun. Inilah iman yang sebenarnya yang bermanfaat. (Taisir al-karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
2. Orang-orang yang beriman tidak akan menjalin cinta kasih dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu berasal dari keluarga sendiri. (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir)
3. Larangan bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, seperti mencintai dan membantu mereka walupun orang tersebut adalah orang yang paling dekat hubungannya. Sesungguhnya para shahabat Rasulullah telah memerangi bapak, anak, saudara dan keluarganya di perang Badar. (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
4. Sifat mengingkari peribadahan orang kafir (musyrik) dapat berupa permusuhan, kemurkaan, kebencian, dan menyakini kekufuran mereka sebagai kekufuran yang nyata dan meninggalkannya. (Agar Syahadat Anda tidak Sia-sia — Abdul Mun’im Masthafa)
5. Sifat pengingkaran kepada kemungkaran dan kesyirikan harus diwujudkan sebagai bukti memusuhi musuh-musuh Allah. Sifat pengingkaran tersebut bisa berupa menyatakan terang-terangan, menyatakan sikap berlepas diri dari ajarannya, kebiasaannya, tradisinya, pengikutnya, dan berusaha menjelaskan kepada manusia tentang kebatilan, kejahatan, dan kekufuran mereka.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ …(4)
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja… (QS. Al-Mumtahanah[60]: 4)
(Bunga Rampai Rukun Islam “Makna Dua Kalimat Syahadat” — Dr. Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan & Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz)
6. Orang yang bersyahadat wajib memiliki al-Wala’ dan al-Bara’ (loyal kepada Allah dan yang dicintai Allah serta memmbenci apa yang dibenci oleh Allah). (Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah — Yazid bin Abdul Qadir Jawas)
7. Larangan dan ancaman keras mengangkat musuh-musuh Allah sebagai pemimpin. (Tafsir Adhwa’ul Bayan — Syaikh Asy-Syanqithi)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















