Seorang Muslim harus tunduk dan patuh terhadap apa-apa yang ditunjukkan oleh kalimat laa ilaaha illallah, hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengamalkan syariat-syariat-Nya, beriman dengan-Nya, dan berkeyakinan behwasanya hal itu adalah benar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
…وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? … (QS. An-Nisa[4]: 125)
Petunjuk-petunjuk ayat di atas:
- Tidak ada seorangpun yang paling baik agamanya daripada seorang yang beribadah denngan keikhlashan kepada Allah dan penyerahan diri secara total dengan sungguh-sungguh mengikuti syariat-Nya. (Taisir al-karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Merupakan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keutamaan agama Islam atas semua agama yang berdiri di atas prinsip penyerahan diri yang dengannya suatu amal tidak sah tanpa penyerahan diri, yakni ikhlash dan muthaba’ah (mengikuti sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Semua anggota tubuh tunduk pada orbit ketaatan kepada Allah dalam melakukan amal shaleh. (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Memurnikan agama hanya untuk Allah, seraya tunduk dan menghadap kepada-Nya di saat beribadah. Inilah yang merupakan ciri muwahhid (seorang yang bertauhid). (Tafsir al-Qurthubi — Syaikh Imam al-Qurthubi)
- Orang yang beramal harus dilandaskan dengan tauhid dan mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tunduk mengikuti apa yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya berupa hidayah dan agama yang benar. (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir)
- Syahadat mengharuskan tunduk kepada Allah sebagai bentuk konsekuensi mentauhidkan-Nya dan setelah membenarkan-Nya dengan lisan dan hati. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an — Sayyid Quthb)
- Syahdat mengharuskan untuk menerima perintah, menjauhi sikap menolak, kesombongan , dan penentangan. (Agar Syahadat Anda tidak Sia-sia — Abdul Mun’im Masthafa)
- Syahadat menuntut diri untuk menyiapkan keinginan kuat untuk menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. (Nawaqidh al-Iman al-Qauliyah wa al-Amaliyah — Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Ali al-Abdul Lathif)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















