A. Cara Bertayammum
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ… (6)
“…Dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu…” (QS. Al-Maaidah[5]: 6)
Dalam ayat ini ada perintah, “Usaplah muka-muka kamu dan tangan-tangan kamu dengan tanah itu!!!” Dalam ayat ini belum diterangkan:
- Cara permulaannya (apakah muka atau tangan);
- Cara mengusapnya;
- Jumlah mengusapnya;
- Batas tangan (apakah pergelangan atau sampai siku).
قَالَ أَبُو مُوسَى لِعَبْدِ اللَّهِ أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ عَمَّارٍ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدْ الْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ
Abu Musa berkata kepada Abdullah, ‘Tidakkah kamu telah mendengar kata-kata Ammar, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah mengutusku untuk suatu keperluan kemudian aku berjunub, lalu aku tidak mendapati air, maka aku menggulingkan badan ke tanah sebagaimana binatang melata menggulingkan badannya?. Kemudian kutemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan kuceritakan perkara tersebut kepada beliau Shallallahu’alaihiwasallam. Maka Beliau bersabda, ‘Sudah cukup memadai bagi kamu dengan kamu menepukkan tangan kamu begini, kemudian beliau menepukkan tangan beliau ke tanah dengan satu tepukan, kemudian beliau menyapu tangan kiri beliau pada tangan kanan dan belakang kedua tapak tangan serta muka beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas menerangkan bahwa,
- Tepukkan kedua tangannya di bumi sekali;
- Menyapu tangan kirinya di atas tangan kanannya;
- Menyapu bagian belakang tangannya;
- Menyapu mukanya.
…إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَضْرِبَ بِيَدَيْكَ الْأَرْضَ ثُمَّ تَنْفُخَ ثُمَّ تَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَكَ وَكَفَّيْكَ
“… Cukup bagimu memukulkan kedua tangan pada permukaan tanah, lalu meniupnya, kemudian mengusap muka dan kedua telapak tangan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Yang Lainnya dari Ammar bin Yasir)
- Dalam hadits ini dijelaskan ada tambahan meniup debu yang ada pada tapak tangan;
- Mengusap Muka telebih dahulu kemudian telapak tangan.
- Satu tepukan. (HR. Bukhari, Muslim, dan Yang Lainnya dari Ammar bin Yasir, HR. Ibnu Abi Syaibah dari Abu Hurairah)
- Dua tepukan (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu Umar; HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i dan al-Baihaqi dari Ibnu Umar; HR. asy-Syafi’I dan al-Baihaqi dari Abu Juhaim; HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’I, dan al-Baihaqi dari Ammar)
B. Siapa Saja Yang Boleh Bertayammum???
- Jika dia tidak mendapatkan air. (QS. Al-Maaidah: 6)
- Jika dia tidak mendapatkan air yang cukup untuk berwudhu’ atau mandi, dia boleh berwudhu’ dengan air yang didapatnya itu atau mandi jika dia dalam keadaan junub kemudian diikuti dengan tayammum untuk bagian-bagian yang tidak terkena air. (QS. At-Taghabun: 16)
- Jika air dalam keadaan benar-benar dingin yang dapat menimbulkan bahaya pada penggunanya, dengan syarat tidak mampu menghangatkannya. (HR. Abu Dawud, ad-Daraquthni, al-Hakim, dan Yang Lainnya dari Amr bin al-Ash. Dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani)
- Jika pada seseorang terdapat luka atau sakit. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim dari Jabir bin Abdullah dan Ibnu Abbas. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)
- Jika seseorang terhalang untuk mendapatkan air oleh musuh, musibah kebakaran, dan pencurian; atau kekhawatiran akan keselamatan diri, harta dan kehormatannya; atau karena sakit yang menjadikannya tidak mampubergerak dan tidak seorangpun yang mau mengambilkannya air. (Al-Mughni dan Syahul Umdah)
- Jika seseorang khawatir kehausan atau mati, dia boleh tetap menahan (menyimpan) air dan bertayammum. (Al-Mughni dan Syahul Umdah)
C. Hal-hal yang membatalkan Tayammum
- Semua yang membatalkan wudhu’ juga membatalkan tayammum. (Al-Mughni, Asy-Syarhul Mumti ‘alaa Zaadil Mustaqni, dan As’ilah wal Ajwibah al-Fiqhiyyah)
- Tayammum juga batal dengan adanya air. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i dari Abu Dzar. Dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albani)
D. Benda-benda yang bisa digunakan untuk bertayammum
- Tanah;
- Pasir;
- Dinding;
- Batu yang licin;
- Permukaan bumi yang suci;
- Dan sejenisnya
Diringkas Dari:
1. Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fii Fiqhil Kitaab was Sunnah al-Muthah-harah (Karya Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah)
2. Shalatul Mu’min Mafhuum wa Aadaab wa Anwaa wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitaab wa Sunnah (Karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani)
3. Shahih Fiqh as-Sunnah Wa Adillatuhu wa Taudhih Madzhab al-A’immah (Karya Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















