Jujur, maksudnya mengucapkan kalimat ini dengan disertai pembenaran oleh hatinya. Barangsiapa lisannya mengucapkan namun hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ(9)
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah[2]: 8-9)
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang munafik:
قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ … (1)…
… Mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah” … (QS. Al-Munafiqun[63]: 1)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mendustakan mereka dengan firman-Nya:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1)…
… Dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (QS. Al-Munafiqun[63]: 1)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Muadz bin Jabal)
Beberapa Petunjuk dari Ayat dan Hadits di Atas:
- Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tiada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah, maka jaminannya Surga. Namun Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari sabda Nabi tersebut barangsiapa yang bersyahadat bahwa tiada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah tanpa dilandasi siddiq (kejujuran) maka tidak memberi faidah syahadat itu baginya, melainkan dia menjadi munafik.
- Orang-orang munafik juga bersaksi bahwa Allah itu benar dan Muhammad itu benar tetapi tidak dilandasi dengan kejujuran hanya sampai dimulutnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menolak pengakuan keimanannya (kesaksiannya ditolak).
- Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk menerima syahadat dengan sepenuh hati, tidak bersenda gurau, tidak bermain-main dan tidak meremehkannya.
- Nilai sebuah syahadat bukan kefasihan dan berapa kalinya diucapkan akan tetapi kemampuan untuk membuktikan dengan penuh keyakinan dan kejujuran dengan berbagai aktifitas amal shaleh.
Diringkas dari:
1. Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir
2. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an — Sayyid Quthb
3. Tafsir al-Maraghi — Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi
4. Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) — Ibnu Hajar al-Asqalani
5. Syarah Shahih Muslim — Imam an-Nawawi
6. Agar Syahadat Anda tidak Sia-sia — Abdul Man’im Masthafa
7. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah — Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















