Sudah diketahui bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya shalat. Tetapi dikecualikan dari itu sejumlah keadaan yang menjadikan shalat seseorang itu sah walau dengan tanpa menghadap kiblat.
1. Seseorang tidk sanggup menghadap kiblat.
Seperti orang sakit yang tidak dapat bergerak, sementara tidak ada seorang pun yang dapat mengarahkannya ke kiblat, maka orang tersebut dimaafkan berdasarkan fiman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ … (16)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu… (QS. At-Taghabun[64]: 16)
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا … (286)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… (QS. Al-Baqarah[2]: 286)
2. Orang yang tidak mengetahui arah kiblat lalu ia berijtihad, ternyata ia shalat bukan menghadap kiblat.
Jika seseorang tidak mengetahui arah kiblat, ia wajib bertanya kepada orang yang mengetahui arah kiblat tersebut. Jika tempat bertanya tidak ada, maka ia berijtihad untuk menentukan arah tersebut. Jika ia sudah berusaha semaksimal mungkin dan melaksanakan shalat, lalu ia tahi kesalahannya saat sedang shalat, maka ia wajib memutar arah shalatnya. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar
بَيْنَا النَّاسُ بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّأْمِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ
“Ketika orang-orang shalat subuh di Quba’, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan berkata, “Sungguh, tadi malam telah turun ayat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka’bah. Maka orang-orang yang sedang shalat berputar menghadap Ka’bah, padahal pada saat itu wajah-wajah mereka sedang menghadap negeri Syam. Mereka kemudian berputar ke arah Ka’bah.” (HR. Bukhari, Ahmad, Malik)
Jika kekeliruan itu diketahui setelah usai shalat, maka shalatnya sah dan tidak perlu diulang kembali. Demikian menurut pendapat yang rajih. Hal ini berdasarkan hadits Amir bin Rabiah, ia berkata:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ الْقِبْلَةُ فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan di malam yang gelap, kami tidak tahu mana kiblat, masing-masing dari kami shalat menghadap sesuai arahnya. Di pagi harinya, kami menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu turunlah ayat: “Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS Al-Baqarah[2]: 115). (HR. Turmidzi. Dihasankan oelh Syaikh Al-Albani)
Inilah madzhab ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, Ahmad, dan Ishaq.
3. Dalam kondisi takut terhadap serangan musuh dan lain-lain.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ (238) فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا … (239)
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. jika kamu dalam Keadaan takut (bahaya), Maka Shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan… (QS. Al-Baqarah[2]: 238-239)
Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu tentang shalat Khauf disebutkan:
فَإِنْ كَانَ خَوْفًا هُوَ أَشَدَّ مِنْ ذَلِكَ صَلَّوْا رِجَالًا قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِمْ أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِي الْقِبْلَةِ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيهَا
Jika keadaan lebih menakutkan daripada itu, mereka shalat dengan berjalan kaki atau dengan menunggangi tunggangan, baik menghadap kiblat atau tidak.” (HR. Bukhari, Malik)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا اِخْتَلَطُوْا فَإِنَّمَا هُوَ التَكْبِيْرُ وَالإِشَارَةُ بِالرَّأْسِ
Jika perang sudah berkecamuk, maka (shalat) hanya dengan takbir dan isyarat dengan kepala. (HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)
4. Mengerjakan shalat sunnah bagi pengendara dalam perjalanan.
Seorang musafir boleh mengerjakan shalat sunnah sambil berkendara (mobil, pesawat, dan kapal). Jika sulit, boleh shalat sunnah tidak menghadap kiblat. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia shalat di atas kendaraannya saat sedang bepergian di malam hari, dan ia tidak peduli ke mana pun kendaraannya menghadap seraya berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat diatas tunggangan Beliau ke arah mana saja menghadap dan juga melaksanakan shalat witir di atasnya. Hanya saja Beliau tidak melaksanakan yang demikian untuk shalat wajib”. (HR. Bukhari, Muslim)
Diriwayatkan dari Amir bin Rabiah, ia berkata:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib”. (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat diatas tunggangannya menghadap kemana arah tunggangannya menghadap. Jika Beliau hendak melaksanakan shalat yang fardlu, maka beliau turun lalu shalat menghadap kiblat.” (HR. Bukhari)
Tetapi jika ia sanggup memulai shalatnya dengan menghadap kiblat lalu setelah itu ia menghadap ke arah mana kendaraannya menghadap, maka itu lebih baik. Hal ini berdasarkan hadits yang menyebutkan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ وَجَّهَهُ رِكَابُهُ
Bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengerjakan shalat sunnah, beliau menghadapkan untanya ke arah Kiblat, lalu beliau shalat ke arah mana saja kendaraan (untanya) menghadap.” (HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















