A. Ta’rif (Pengertian) Shalat
Shalat dari segi bahasa berarti doa.
Firman Allah Taala,
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ.
“Dan mendoalah untuk mereka, sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka.” (QS. At-Taubah[9]: 103)
Shalat dari segi istilah syar’i adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan khusus yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam.
Definisi ini diambil dari hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi)
B. Mengapa shalat disebut doa?
Shalat merupakan sebutan bagi setiap doa, ia menjadi sebutan bagi doa yang khusus (tertentu) atau pada mulanya ia merupakan sebutan bagi doa lalu dialihkan untuk sebutan shalat yang disyariatkan karena antara keduanya shalat dan doa terdapat kesesuaian. Hal itu berdekatan antara satu dan yang lainnya, oleh karena itu jika kata shalat itu disebutkan dalam syariat yang dimaksudkan tidak lain adalah shalat yang disyariatkan. Kesimpulannya, seluruh shalat adalah doa baik doa dalam arti permohonan yaitu memohon segala hal yang bermanfaat bagi pemohon baik dalam bentuk suatu manfaat maupun penghindaran dari suatu bahaya. Doa juga kadang bukan meminta tetapi ibadah yaitu ungkapan-ungkapan berbagai amal shaleh dapat berupa pengagungan (takbir), pensucian (tasbih), pengesaan (tahlil), dan sebagainya.
Diringkas dari Kitab: Shalaatul Mu-min Mafhuum wa Fadhaa-il wa Aadaab wa Anwaa’ wa Ahkaam wa Kaifiyyah fii Dhau-il Kitaab was Sunnah Karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















