Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (19)
Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS. Muhammad[47]: 19)
Petunjuk-petunjuk Ayat di Atas:
- Ayat ini mengandung dalil tentang wajibnya memiliki pengetahuan sebelum berkata dan berbuat dan inilah yang disebut oleh Imam Bukhari rahimahullah sebagai satu bab khusus dalam kitabnya. (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Kewajiban untuk mengetahi bahwa tiada tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah. Hal ini bisa dicapai dengan mengakui bahwa manusia adalah makhluk, sebagaimana makhluk-makhluk yang lain di sekitarnya. Setiap makhluk pasti ada yang menciptakannya. Lalu siapakah yangciptakan manusia dan alam ini? Pasti Allah. Oleh karena itu, jika Allah adalah Sang Pencipta, berarti selain Dia adalah makhluk yang butuh pencipta untuk menjaga kehidupannya. Kalau begitu siapakah yang dipertuhankan dan disembah, Khaliq atau makhluk? Jawabannya adalah Khaliq. Jadi jelaslah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah, selain Allah. Dan inilah arti dati Laa Ilaaha Illallah. Karena ibadah itu tidak bisa diketahui, melainkan dengan wahyu, maka kita wajib beriman kepada Rasulullah, oleh karenanya perlu adanya tambahan Muh ammaddar Rasulullah. Sempurnalah kalimat itu menjadi Laa Ilaaha Illallah Muhammaddar Rasulullah. (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan perintah-Nya kepada manusia agar mengetahui ke-Esa-an Allah (Tauhid) daripada perintah memohon ampunan-Nya (Istighfar). Alasannya mengetahui ke-Esa-an Allah (Tauhid) mengisyaratkan bahwa dia merupakan ilmu pokok. Sedangkan menyibukkan diri dengan memohon ampunan mengisyaratkan ilmu cabang. Yang pokok mesti didahulukan daripada cabang. (Simpulan dari kitab Tafsir al-Qurthubi — Syaikh Imam al-Qurthubi)
- Sungguh semua ilmu untuk ketaatan adalah penting. Akan tetapi selama ilmu pokok tersebut (Tauhid) tidak diketahui maka ilmu-ilmu yang lain tidak akan memberi faidah. Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendakwahkan ilmu ini selama 13 tahun tiada henti kemudian mendakwahkan ilmu yang lain. Bukan tidak penting perkara ilmu selain ilmu tauhid tetapi itulah sunnah Nabi, sunnah di dalam berdakwah, sunnah dalam berilmu, mendahulukan yang didahulukan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Fathul Majid — Al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh)
- Sungguh, selama seseorang tidak mengetahui ilmu Laa Ilaaha Illallah (Tauhid) maka pasti seseorang tidak mengetahui adanya sesembahan yang benar dan adapula sesembahan yang bathil. Sesembahan yang bathil harus dilenyapkan atau dinafikan sedangkan sesembahan yang haq ituah yang harus ditetapkan (isbat). Tanpa ilmu tauhid (Laa Ilaaha Illallah) seseorang tidak akan pernah bisa beribadah dengan benar dan mengibadahi yang benar. Sementara tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah dengan benar kepada sesembahan yang benar dan tidak mungkin dicapai tanpa ilmu tauhid. (Al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid — Syaikh Muhammad al-Utsaimin)
- Ilmu tentang Laa Ilaaha Illallah adalah ilmu yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu ilmu tentang meng-Esa-kan Allah. Ilmu ini wajib hukumnya atas setiap orang dan tidak bisa gugur bagi siapapun juga bahkan semua sangat memerlukannya. Ilmu inilah yang seharusnya didahulukan dari semua cabang ilmu, di sinilah seharusnya seluruh tenaga tercurahkan, di sinilah seharusnya waktu lebih diutamakan, ilmu inilah yang seharusnya dituntut kemudian ditekuni kemudian menyibukkan kepada ilmu-ilmu yang lain. (Taisir al-karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Dalam ayat di atas terdapat kalimat “Dan mohonlah Ampunan bagi dosamu!” yakni mintalah ampunan atas dosamu kepada Allah dengan melakukan amalan-amalan yang dapat mendatangkan ampunan seperti bertaubat, berdoa agar diberi ampunan, melakukan berbagai kebaikan yang bisa melebur kesalahan-kesalahan, meninggalkan dosa dan amalan-amalan lainnya. Perhatikan sekali lagi kalimat tersebut diletakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah perintah mengenal kaliamat Laa Ilaaha Illallah. Itu berarti ampunan bagi seseorang yang sangat dibutuhkannya tidak akan dapat memberi faidah jika tidak dimulai dengan bertauhid lebih dahulu. Salah satu fungsi amalan yang kita lakukan adalah menggugurkan dosa-dosa namun tidak bermanfaat amalan-amalan tersebut tanpa memiliki ilmu Laa Ilaaha Illallah. (Taisir al-karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















