11. Hukum Imam Bila Teringat Bahwa Ia Berhadats, atau Keluar dari Shalat Karena Hadats atau Lainnya
اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ أَوْمَأَ إِلَيْهِمْ أَنْ مَكَانَكُمْ ثُمَّ دَخَلَ فَخَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنِّي كُنْتُ جُنُبًا
Beliau lalu bertakbir dan memberi isyarat kepada orang-orang agar tetap di tempat. Beliau segera masuk (rumah) kemudian keluar dengan kepala yang masih meneteskan air. Lalu beliau shalat bersama mereka. Seusai mengerjakan shalat, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, dan sesungguhnya aku tadi sedang junub.” (HR. Ahmad dari Abu Bakrah)
12. Imamah Seorang Wanita bagi Kaum Wanita itu Juga Sah
أَنَّهَا أَمَّتِ النِّسَاءَ فَقَامَتْ وَسَطَ الصَّفِّ
Bahwa Aisyah shalat menjadi imam bagi kaum wanita dan beliau berdiri di tengah shaf. (HR. Baihaqi, Hakim, Ad-Daruquthni, Ibnu Abi Syaibah)
13. Imamahnya Seorang Laki-laki untuk Jamaah Kaum Wanita Juga Sah
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ فَقَالَ قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لَبِثَ فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْيَتِيمُ مَعِي وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ
Dari Anas bin Malik bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuknya. Beliau lantas memakannya lalu bersabda: “Berdirilah kalian, aku akan pimpin shalat kalian.” Maka aku berdiri di tikar milik kami yang sudah hitam lusuh akibat sering digunakan. Tikar itu kemudian aku perciki dengan air, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri diatasnya. Maka aku dan anak yatim yang tinggal bersama kami merapatkan shaf di belakang beliau sedangkan nenek kami berdiri di belakang kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian shalat memimpim kami sebanyak dua rakaat.” (HR. Bukhari)
14. Imamah Orang yang Berkunjung atas Suatu Kaum Tidak Diperbolehkan, kecuali Seizin Mereka
مَنْ زَارَ قَوْمًا فَلَا يَؤُمَّهُمْ وَلْيَؤُمَّهُمْ رَجُلٌ مِنْهُمْ
“Barangsiapa mengunjungi kaum maka janganlah mengimami mereka, tetapi hendaklah yang mengimami mereka adalah salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i dari Malik bin Al-Huwairits)
15. Imamah di Suatu Masjid sebelum Imam yang Semestinya Menunaikan Shalat Tidak Diperbolehkan, kecuali jika Imam tersebut Terlambat dari Waktu yang Ditentukan atau dengan Seizinnya
وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ
Dan jangan seseorang mengimami seseorang di daerah wewenangnya. (HR. Muslim dari Abu Mas’ud)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















