Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ … (36)
Terjemahan: Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,… (QS. An-Nahl[16]: 36)
Petunjuk-petunjuk dari ayat di atas:
- Tidak ada sebuah umat yang telah berlalu atau datang belakangan, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti telah mengutus Rasul di tengah mereka. Semua Rasul itu sepakat bahwa satu da’wah satu ajaran yang sama yaitu mengajarkan Tauhid dan menjauhi Syirik. (Taisir al-karim ar-Rahmah Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan setiap umat terdahulu tidak pernah lepas dari seorang utusan (Rasul) yang di utus kepada mereka untuk memberikan petunjuk dan menjelaskan jalan menuju kesuksesan serta memperingatkan mereka dari jalan yang sesat. Allah juga mengabarkan tentang kesamaan da’wah semua Rasul tersebut yaitu menyeru kepada Tauhid (La Ilaha Illallah) yakni hanya beribadah kepada Allah semata serta menjauhi thaghut (Syirik) yakni setiap yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat yang telah lalu seorang Rasul. Yang memerintahkan kepada mereka supaya menyembah Allah dan menaati-Nya semata, serta meninggalkan peribadatan kepada selai-Nya berupa setan, berhala, orang yang sudah mati, dan selainnya yang dijadikan penolong selain Allah. (At-Tafsir al-Muyassar — Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh & Syaikh Bakar Abu Zaid)
- Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat manusia agar hanya menyembah kepada Allah (Tauhid) dan menjauhi menyembah selain-Nya, ibadah kepada Allah tidak akan berguna (diterima) kecuali dengan dasar Tauhid. (Tafsir Adhwa’ul Bayan — Syaikh Asy-Syanqithi)
- Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa setiap generasi dan golongan manusia mendapatkan masing-masing Rasul untuk mengajak mereka kepada tujuan yang sama yakni beribadah kepada Allah dan meninggalkan hal yang sama yakni beribadah kepada selain-Nya. (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir)
- Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa telah mengutus Rasul pada setiap umat untuk tujuan yang samayakni hendaknya kalian menyembah Allah semata dan tinggalkan oelh kalian semua sesembahan selain Allah, seperti Setan, Dukun, Patung, dan semua yang menyeru kepada kesesatan. (Tafsir al-Qurthubi — Syaikh Imam al-Qurthubi)
- Pengutusan para Rasul merupakan perkara yang telah diberlakukan oleh Sunnah ilahiyah terhadap seluruh umat dan dijadikan sebab orang mendapat hidayah dan menjauhi perkara kesyirikan sebagai sebab utama manusia di adzab. (Tafsir al-Maraghi — Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi)
- Sesungguhnya pembagian manusia dapat hidayah dan kesesatan dengan menjadikan Tauhid sebagai ukurannya. Dua kubu ini tidak pernah menyatu antara kubu Tauhid dan kubu Syirik. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an — Sayyid Quthb)
- Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia-lah yang telah mengutus Rasul untuk memerintahkan menyembah kepada-Nya, mentaati-Nya semata dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya (Tauhid) dan memerintahkan kepada setiap Rasul untuk menjauhi setan dan waspadalah agar kalian tidak disesatkan. (Tafsir ath-Thabari — Imam ath-Thabari)
- Betapa mulianya Tauhid karena semua manusia paling mulia (para Rasul) telah menjadikan prioritas nasehatnya dan betapa buruknya kesyirikan karena semua para Rasul telah menjadikan awal dan inti nasehat mereka maka pasti mulialah orang yang menjadi perhatian nasehatnya adalah Tauhid dan jauhi Syirik. Allah jelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa diantara umat manusia ada yang berbahagia karena menerima da’wah Tauhid dari Rasul dan ada yang diadzab karena menolak da’wah Tauhid (tetap Musyrik), berarti bahagia seseorang karena Tauhid dan diadzab karena Syirik. (Penulis)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















