Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً … (55)
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut… (QS. Al-A’raf[7]: 55)
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا … (56)…
… Dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)… (QS. Al-A’raf[7]: 56)
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ … (60)
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu… (QS. Al-Mu’min[40]: 60)
Faidah Ayat-ayat di Atas:
- Yang paling mulia dan yang paling utama yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah dan meminta bantuan-Nya untuk dapat melakukan ibadah.
a. Beribadah kepada Allah merupakan puncak keinginan.
b. Permintaan puncak dan paling penting agar dapat beribadah.
c. Permohonan taufik menjadi hal yang paling terpenting melebihi permohonan lainnya.
d. Permohonan untuk dapat melakukan hal-hal yang diridhainya adalah kerinduan yang tertinggi.
e. Mengenal, mencintai, beribadah, dan senantiasa berdoa kepada Allah adalah puncak kebahagiaannya. - Berpaling dari beribadah dan berpaling dari meminta bantuan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (kebalikan dari yang pertama)
a. Ibadah secara benar tidak masuk dalam daftar memori hidupnya.
b. Permintaan kepada Allah hanya berdasarkan kepentingan syahwatnya, bukan kepentingan bisa beribadah.
c. Ukuran mulia dan tidak mulia bagi dirinya adalah terpenuhinya permintaannya meskipun di atas kepentingan syahwatnya. - Orang yang mempunyai suatu bentuk ibadah tanpa disertai permohonan bantuan kepada Allah.
a. Orang yang beribadah tapi tidak sungguh-sungguh di dalam meminta kenikmatan beribadah.
b. Orang yang mempunyai ibadah dan wirid tetapi tawakkal dan permohonan bantuan kepada Allah kurang kadarnya.
c. Hatinya belum dapat merasa luas untuk mengaitkan sebab-sebab dengan takdir. - Orang yang meminta bantuan tetapi tidak beribadah
a. Orang yang meyakini keesaan Allah dalam memberi mudharat dan manfaat tetapi tidak tahu apa yang dicintai dan diridhai Allah.
b. Orang yang memiliki kebutuhan kepada Allah tetapi hanya berdasarkan nafsunya bukan dalam rangka mentaatinya.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















