Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (24)
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah[45]: 24)
Faidah-faidah Ayat di Atas:
- Golongan yang berpaling dari tauhid rububiyah golongan ad-Dahriyah, golongan ini adalah golongan yang sangat aneh (menympang dari keumuman manusia. (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir)
- Ungkapan di atas adalah ungkapan golongan athei, yaitu kaum yang mengingkari adanya Sang Pencipta. Mereka berkeyakinan, “Tidak ada yang membinasakan kita melainkan masa yakni perjalanan waktu, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, hidup dan mati karena pergantian waktu.” (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Golongan lain yang menyimpang dari tauhid rububiyah, yakni al-Majusi yakni menyakini dua pencipta, pencipta kebaikan dan pencipta keburukan berarti mereka mengkafiri dan menyekutukan tauhid rububiyah.
- Golongan yang menyimpang pula, yaitu al-Qadariyah yang menyakini bahwa manusia menciptakan perbuatan mereka sendiri selain Allah. Berarti sama dengan keyakinan al-Majusi yakni meyakini bahwa ada dua pencipta hal ini berarti mereka tidak mentauhidkan hak yang khusus untuk Allah.
- Penyimpangan tauhid rububiyah juga terjadi pada golongan shufiyah (shufi) yang menyakini bahwa sebagian wali memiliki pengaruh atas urusan alam ini bersama Allah, berarti mereka mengingkari tauhid rububiyah karena tidak memurnikan urusan keselamatan dan menolak mudharat itu mutlak urusan Allah, bukan urusannya makhluk.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















