Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ وَالنَّاسُ فِي مَبِيتِهِمْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا أَنْ لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ
“Aku menduga dia berkata; “dan ketika itu orang-orang sedang bermalam di tempat mereka”, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang utusan agar tidak membiarkan pada leher-leher unta seutas talipun yang digunakan untuk mengikat panah atau seuatas kalung melainkan harus dipotong”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Basyir al-Anshari)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْك
Dari Abdullah ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan tiwalah (menjadikan seorang wanita mencintai suaminya) adalah bentuk kesyirikan. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dari Ibnu Mas’ud)
Faidah-faidah Hadits di Atas:
- Ruqiyah atau ar-ruqa’ adalah doa-doa atau ucapan-ucapan yang dibacakan kemudian ditiupkan, ada yang dibolehkan yakni yang sesuai syariat dan ada yang dilarang karena merupakan kesyirikan.
- At-Tamaim adalah jama’ dari kata tamimah yang artinya segala yang digantungkan baik terbuat dari kulit, ikatan kain, bacaan-bacaan tertentu atau bacaan-bacaan ta’awudz semua itu diharamkan.
- Semua ruqiyah atau jampi-jampi, tamimah atau jimat-jimat, dan tiwalah atau guna-gunayang mengandung kesyirikan tidak dibolehkan.
- Jika menggantungkan ruqiyah dan tamimah untuk menyembuhkan atau menolak sesuatu maka itu termasuk syirik asghar.
- Jika menggantungkan ruqiyah dan tamimah bukan untuk menolak dan menyembuhkan tetapi hanya untuk perhiasan maka itu termasuk haram karena menyerupai kaum musyrik.
Sumber:
An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhid Karya Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















