Kepala SMAN 5 Makassar Dr. Sudirman Kadir, S.Pd., M.Pd., M.M menyambut baik kegiatan Safari Dakwah Dzulhijjah 1447 Hijriah yang dilaksanakan Yayasan Tajdidul Iman, (YTI) binaan salah satu ulama Makassar, KH Sudirman, S.Ag.
Kegiatan yang dilaksanakan di Mesjid Nurut Tarbiyah SMAN 5 Makassar, Jalan Taman Makam Pahlawan nomor 4, Tello Baru, Kecamatan Panakkukang pada, Selasa (26/5/2026) atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1447 H dihadiri ratusan jamaah baik dari YTI maupun warga setempat.
Dalam sambutannya, Sudirman mengungkapkan kekagumannya dengan YTI yang berhasil selama 9 hari melaksanakan kegiatan Safari ini dengan berpindah pindah masjid se kota Makassar.
“Ini sebuah penghormatan bagi kami, atas dipilihnya masjid kami sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan ini. Saya juga bersyukur bisa bertemu kembali pak Kiai Sudirman setelah pelaksanaan Halal Bihalal kemarin, beliau ini juga alumni SMAN 5 Makassar” terang Sudirman yang sejak September 2023 memimpin sekolah tersebut.
Airmata Arafah
Sementara itu dalam tauziahnya dihari ke 9, Kiai SUdirman kembali mengupas masalah ketokohan, keberanian, kejujuran, ketabahan yang telah dicontohkan nabi Ibrahim AS beserta keluarganya hingga mengurai air mata.
“Dari pengamatan saya, ternyata air mata yang paling banyak tumpah di dunia, adalah air mata yang jatuh di Arafah. Karena jujur, di tempat itulah kita akan mengakui dan menemukan jati diri kita. Tentang siapa dan dari mana kita berasal.” Ungkap Kiai Sudirman yang kembali mengajak kita merenung tentang tugas kita didunia dan ujungnya mau ke mana?
Hakikat Arafah sambung Kiai Sudirman, adalah kejujuran, mengakui dosa kita sebagaimana riwayat Nabi Adam saat berbuat dosa hingga dikeluarkan dari surga.
“Apa yang beliau (nabi Adam AS-red) ucapkan di bumi Arafah itu? *Rabbana zalamna anfusana, wa illam tagfir lana wa tarhamna, lanakunanna minal-khasirin. Bukan cuma Ilahi, bukan cuma Allahumma, tapi *Rabbana*. Wahai Pemilik, Pencipta, Penguasa, Pengatur… kami ya Allah zalamna telah menganiayai diri kami.” Ujarnya.
Arafah hari ini telah mengajarkan kita tentang tauhid. Jutaan manusia menghadap satu kiblat. Jutaan manusia menyebut satu nama yang sama. Allahu Akbar. Mengagungkan yang sama. Merendah di hadapan yang sama. Mengakui dirinya tidak ada apa-apanya di hadapan yang sama.
Maka saat wukuf di Padang Arafah, kita dianjurkan untuk melepaskan segala atribut dan pikiran duniawi. “Inti dari prosesi ini adalah berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk fokus bermuhasabah (introspeksi), memurnikan tauhid, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT” kunci kiai yang juga wakil ketua PDM Makassar itu. (*)






















