Hadits-hadits tentang Kencing Berdiri
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا قَاعِدًا
Dari Aisyah ia berkata; “Barangsiapa menceritakan kepada kalian bahwa Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam buang air kecil dengan berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidaklah buang air kecil kecuali dengan duduk.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dari Aisyah. Shahih Lighairih)
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فَتَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ
Dari Hudzaifah dia berkata, “Aku pernah berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat kami sampai di suatu tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau kencing sambil berdiri, maka aku pun menjauh dari tempat tersebut. Setelah itu beliau bersabda: ‘Kemarilah.’ Aku pun menghampiri beliau hingga aku berdiri di samping kedua tumitnya. Beliau lalu berwudlu dengan menyapu atas sepasang khuf beliau.” (HR. Bukhari, Muslim)
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ حَسَنَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ الدَّرَقَةِ فَوَضَعَهَا ثُمَّ جَلَسَ خَلْفَهَا فَبَالَ إِلَيْهَا
Dari Abdurrahman bin Hasanah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menemui kami, dan di tangan beliau ada sesuatu yang mirip perisai dari kulit. Beliau lalu meletakkannya dan duduk di belakangnya, kemudian buang air kecil ke arah perisai tersebut.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)
عَنْ عُمَرَ قَالَ رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبُولُ قَائِمًا فَقَالَ يَا عُمَرُ لَا تَبُلْ قَائِمًا فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ
Dari Umar ia berkata; “Ketika aku kencing dengan berdiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku, maka beliau pun menegurku: ‘Wahai Umar, janganlah engkau kencing dengan berdiri.’ Maka semenjak itu aku tidak pernah kencing dengan berdiri lagi.” (HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Hakim. Dhaif)
ثَلَاثَةٌ مِنَ الْجَفَاءِ: أَنْ يَبُوْلَ الرَّجُلُ قَائِمًا، أَوْ يَمْسَحَ جَبْتَهُ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ، أَوْ يَنْفَخَ فِي سُجًوْدِهِ
“Ada tiga perkara tanda tabiat yang kasar: seorang buang air kecil sambil berdiri, mengusap dahinya sebelum selesai shalatnya, atau meniup tempat sujudnya.” (HR. Al-Bukhari dalam At-Tarikh, Al-Bazzar dari Buraidah. Munkar)
Pandangan Ulama tentang Hadits-hadits di Atas:
- Dimakruhkan bila dilakukan tanpa ada udzur. (Aisyah, Ibnu Mas’ud, Umar dalam salah satu riwayatnya, Abu Musa, asy-Sya’bi, Ibnu Uyainah, Hanafiyah dan Syafi’iyah)
- Dibolehkan secara mutlak. (Umar [dalam riwayat yang lain], Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, Sahl bin Sa’d, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifah, dan merupakan pendapat Hanabilah)
- Dibolehkan, apabila dilakukan di tempat yang lembek sehingga tidak memercikkan air seni, dan tidak dibolehkan bila tempatnya keras. (Madzhab Malik, dan dirajihkan oleh Ibnu al-Mundzir)
KESIMPULAN:
Pendapat yang kuat adalah tidak dimakruhkan buang air kecil dengan berdiri, selama aman dari percikan air seninya, berdasarkan alasan-alasan berikut ini:
- Tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perbuatan tersebut.
- Adapun riwayat yang menyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambuang air kecil sambil duduk, tidak menafikan bolehnya buang air kecil sambil berdiri, bahkan menunjukkan bolehnya kedua cara tersebut.
- Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau buang air kecil sambil berdiri.
- Adapun penafian dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air kecil sambil berdiri, adalah berdasarkan pengetahuannya akan perbuatan beliau di rumahnya. Hal ini tidaklah menafikan, di luar rumah beliau pernah buang air kecil sambil berdiri. Tidak diragukan lagi bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah berarti sesuatu itu tidak ada. Orang yang mengetahuinya –seperti Hudzaifah dan selainnya- adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahuinya, dan orang yang menetapkan harus didahulukan dari pada orang yang menafikan. Wallahu a’lam
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















