1. Mengumandangkan adzan dengan suara keras. Jika seorang muadzdzin merendahkan suaranya, sehingga tidak dapat didengar kecuali oleh dirinya sendiri, apa yang menjadi tujuan syariat menjadi tidak tercapai.
فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ
Jika waktu shalat tiba, hendaknya salah seorang diantara kalian mengumandangkan adzan. (HR. Bukhari, Muslim dari Malik bin Al-Huwairits)
2. Hendaklah adzan dikumandangkan sesuai dengan yang ditetapkan sunnah, tanpa memberikan tambahan atau melakukan pengurangan.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak. (HR. Muslim dari Aisyah)
3. Adzan harus dikumandangkan oleh satu orang saja dan tidak boleh dilakukan oleh dua orag. Artinya, jika seseorang mengumandangkan sebagian kalimat adzan lalu orng lain menyempurnakannya, adzan itu tidak sah.
4. Adzan itu harus diniati oleh muadzdzin.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Semua perbuatan tergantung niatnya. (HR. Bukhari, Muslim dari Umar bin Khaththab)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















