Qashar adalah azimah (kewajiban) artinya harus qashar. (Madzhab Hanafiyah, satu pendapat madzhab Malikiyah, madzhab Zhahiriyah)
Dengan dalil:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ يَقُولُ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: “Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika safar (bepergian), selama kepergian itu Beliau tidak lebih melaksanakan shalat kecuali dua raka’at. Begitu juga dengan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman radliallahu ‘anhum. (Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/479 no. 689)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/90 no. 1211), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/577 no. 1102), dan Sunan an-Nasa-i (III/123))
Catatan: Praktek Nabi dan para sahabat, jika beliau musafir, beliau selalu mengqashar.
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ
Mengqashar shalat adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian. Oleh karena itu, terimalah sedekah-Nya.“ (Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3762)], Shahiih Muslim (I/478 no. 686), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/64 no. 1187), Sunan an-Nasa-i (III/116), Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1065), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/309 no. 5025) dari Umar bin Khaththab)
Catatan: Dalam hadits di atas ada kata “Maka terimalah sedekah (dari Allah)” salah satu kesombongan jika menolak menerima pemberian dari Allah.
Setiap ibadah ada kadarnya seperti shalat shubuh 2 rakaat tidak boleh menambah lebih dari itu sebagaimana halnya pada saat musafir tidak boleh menambah lebih dari 2 karena demikian ketentuannya.
قَالَ عُمَرُ صَلَاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‘Umar berkata; “Shalat Jum’at dua raka’at, shalat Idul Fitri dua raka’at, dan shalat Safar dua raka’at. Itu semua adalah sempurna, bukan qashar (diringkas) menurut lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 871)], Sunan an-Nasa-i (III/183), dan Sunan Ibni Majah (I/338 no. 1063))
Catatan: Pada hadits di atas shalat Jum’at memang ketentannya dua rakaat, idul Fithri demikian pula, maka sama hukumnya dengan shalat safar tidak pernah Rasulullah dan para sahabatnya menambah rakaatnya shalat Jum’at, idul Fithri dan shalat safar semuanya dua rakaat, dan Nabi megatakan itu sudah lengkap berarti kewajiban tidak menambahnya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab[33]: 21)
عَنْ ابْنِ عُمَرَ يَقُولُ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata: “Aku pernah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika safar (bepergian), selama kepergian itu Beliau tidak lebih melaksanakan shalat kecuali dua raka’at. Begitu juga dengan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman radliallahu ‘anhum. (Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/479 no. 689)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/90 no. 1211), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/577 no. 1102), dan Sunan an-Nasa-i (III/123))
Catatan: Beribadah itu wajib ittiba’, Nabi dan par sahabatnya selalu qashar (2 rakaat) jika musafir dan tidak pernah beliau menambahnya.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















