Mayoritas ulama berpendapat bahwa, disyari’atkan mengqashar shalat ketika telah meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Ini adalah syarat. Dan tidaklah disempurnakan shalat (4 raka’at) sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya). Ibnul Mundzir berkata, “Aku tidak mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qashar dalam beberapa safarnya kecuali beliau telah keluar dari Madinah.”
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَبِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ
Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: “Aku shalat Zhuhur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah sebanyak empat raka’at sedangkan ketika di Dzul Hulaifah dua raka’at”. (HR. al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 1089), Shahiih Muslim (I/480 no. 690), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/69 no. 1190), Sunan at-Tirmidzi (II/29 no. 544), dan Sunan an-Nasa-i (I/235). Yang dimaksud dengan ucapan-nya: “Di Dzul Hulaifah dua raka’at,” adalah shalat ‘Ashar. Sebagaimana di-jelaskan oleh riwayat-riwayat lain, selain riwayat Shahiih al-Bukhari)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















