1. Bila orang yang sedang sakit tidak mampu sujud di lantai, ia dapat melakukannya dengan isyarat saja, dan tidak perlu mengambil sesuatu lalu menempelkan dahinya di situ untuk bersujud.
صَلِّ عَلَى الْأَرْضِ إِنْ اسْتَطَعتَ وَإِلَّا فَأَوْمِئْ إِيْمَاءً وَاجْعَلْ سُجُوْدَك أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِك
Shalatlah (dengan bersujud) di atas bumi bila engkau mampu dan bila tidak, lakukanlah dengan isyarat dan buatlah posisi sujudmu lebih rendah daripada rukukmu. (HR. Al-Baihaqi dari Jabir. Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanadnya kuat)
2. Bila dipertengahan shalat, orang yang sedang sakit mampu melakukan apa yang sebelumnya tidak mampu dilakukan, maka ia hendaknya beralih kepada keadaan yang ia mampu melakukan itu, tanpa memutuskan shalat sebelumnya. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, II; Asy-Syarh Al-Kabir, V: 15; AL-Inshaf, V: 15; dan Majmu’ Fatawa IbnuBaz, XII: 243)
3. Orang yang sedang sakit wajib menunaikan shalat tepat pada waktunya. Bila berat baginya menunaikan shalat tepat pada waktunya, maka boleh ia menjama’ shalatnya.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ
Dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat zhuhur dan ashar semuanya, dan antara Maghrib dan Isya’ semuanya bukan karena ketakutan dan tidak pula ketika safar. (HR. Muslim)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ
Dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ketakutan dan bukan pula karena hujan. (HR. Muslim)
4. Orang yang sedang sakit tidak boleh meninggalkan shalat dalam kondisi apa pun selama akalnya tidak berubah. Sebaliknya, seorang yang terkena beban taklif harus selalu berupaya lebih keras untuk menunaikan shalat pada masa-masa sakit daripada masa-masa sehat, dan menunaikannya tepat pada waktu yang telah disyariatkan, sesuai dengan kemampuannya. Bila ia mengetahui hukum syar’i bagi mukallaf yang mampu melakukannya meski dengan isyarat, maka ia berdosa.
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya maka dia sungguh telah kafir. (HR. Tirmidzi dar Buraidah. Disahihkan oleh Al-Albani)
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ
Sungguh, yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan shalat. (HR. Muslim dari Jabir)
5. Bila orang yang sedang sakit tertidur atau lupa padahal belum menunaikan shalat, ia wajib menunaikannya ketika bangun atau teringat. Dan ia tidak boleh meninggalkan sampai masuk waktu shalat yang sama pada hari berikutnya untuk menunaikan pada waktu tersebut.
مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ
Barangsiapa lupa shalat, hendaklah ia tunaikan ketika ingat, tidak ada kaffarat atas shalatnya selain menunaikannya. (Muttafaq Alaih dari Anas bin Malik)
6. Bila orang yang sakit dalam kondisi safar, ia hendaknya mengqashar shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat selama posisinya sebagai musafir.
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (101)
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. An-Nisa[4]: 101)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















