Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُو فِي دِينِكُمْ … (171)
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu… (QS. An-Nisa[4]: 171)
Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”). (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab)
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ قَالَهَا ثَلَاثًا
‘Celakalah orang-orang yang suka melampaui batas.’ (Beliau mengucapkannya tiga kali). (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)
Faidah-faidah Ayat dan Hadits-hadits di Atas:
- Sebahagian kaum muslimin mendatangi kuburan orang shaleh, orang tua, keluarga dengan beritikaf di sekelilingnya, berdoa kepada penghuninya, meminta berkah, dan bertawassul, shalat menghadap ke kuburan, menembok kuburan, membangun tempat ibadah di atasnya, memesangi penerangan, membuatkan kelambu, dan sebagainya. Ini semua merupakan bentuk al-ghuluw kepada mereka.
- Membungkuknya seseorang, rukuk dan sujud seseorang, mencium kakinya, berjalan mundur pada orang shaleh dan orang tua, mengumpul anggota tubuh seseorang yang telah meninggal seperti rambutnya, kukunya, dan peninggalan-peninggalannya seperti tongkatnya, bajunya, songkoknya lalu bertawasuul dengannya, membuatkan patung-patung orang shaleh untuknya, memasang foto atau gambar orang shaleh dengan niat mengambil berkahnya, mengantongi foto-foto wali dan orang shaleh demi keberkahan, dan sebagainya. Ini merupakan bentuk ithra.
- Memperlama di kamar mandi dengan melampaui batas, harus menjilat jari-jari pada saat istinja, membujang karena khawatir pasangan hidup menjadi penghalang untuk ibadah, meninggalkan tidur di malam hari demi ibadah, menyambung puasa demi ketaatan, tidak mau makan kecuali dengan tiga jari, tidak boleh memekai sendok, tidak boleh memakai kendaraan kecuali kendaraan yang pernah dipakai oleh nabi seperti onta, harus berbahasa Arab dalam khutbah, bepergian harus dengan tongkat, dan sebagainya. Ini merupakan bentuk-bentuk tanaththu.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















