1. Shalat fardhu sah dilakukan di kapal, pesawat terbang, kereta api, mobil atau di atas kendaraan lainnya.
2. Bila mampu shalat di atas kendaraan apa pun tetap diwajibkan berdiri.
وسُئل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن الصلاة في السفينة ؟ فقال: صَلِّ فيها قائماً ؛ إلا أن تخاف الغرق
Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di kapal. Penanya berkata, “Bagaimana cara saya shalat di kapa?” Beliau menjawab, “Shalatlah dengan berdiri, kecuali engkau takut tenggelam.” (HR. Hakim, I: 275. Ia mengatakan, “Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.” Dzahabi menyatakannya mauquf, I: 275; Daruquthni dalam As-Sunan, I: 395; Al-Albani menyebutkannya dalam Shifat Shalat, hal. 68. Beliau menukil pernyataan shahih oleh Hakim dan mauquf oleh Dzahabi. Syaikh Muhammad Syamsul Haq dalam Ta’liq Al-Mughni ala Ad-Daraquthni, “Di dalamnya terdapat Basyar bin Fa’fa yang dinyatakan lemah oleh Daruquthni, demikian puladiAl-Mizan. Akan tetapi, apa di antara bentuk kelemahan itu merupakan cacat yang masih bersifat samar” I: 395)
3. Bila tidak mampu berdiri shalat di atas kendaraan boleh dilakukan dengan duduk.
صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا
Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk. (HR. Bukhari dari Imran bin Hushain)
4. Jika tidak mampu berdiri, duduk, lakukanlah shalat tersebut sesuai dengan kondisinya apa yang mampu dia lakukan.
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ … (16)
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu… (QS. At-Taghabun[64]: 16)
5. Shalat di atas kendaraan tetap dituntut berjamaah sesuai dengan kemampuan dan keadaannya masing-masing.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Itbah, ia berkata, “Saya pernah menemani Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id Al-Khudri, dan Abu Hurairah di kapal. Mereka shalat dengan berdiri secara berjamaah, salah seorang dari mereka menjadi imam dan mereka sebenarnya bisa menepi ke pantai.” (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya, sebagaimana dinisbatkan kepadanya oleh Al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam Muntaqa Al-Akhbar, hadits no. 1510)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















