JIKA IMAM SHALAT DALAM KEADAAN JUNUB
1. Shalat yang dilakukan makmum tetap sah. (Dipelopori oleh Imam Syafi’i)
Dalilnya: Tidak ada kaitan antara shalat imam dan shalat makmum
رَوَاهُ أَيُّوبُ وَابْنُ عَوْنٍ وَهِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ مُرْسَلًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَكَبَّرَ ثُمَّ أَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْقَوْمِ أَنْ اجْلِسُوا فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ
Diriwayatkan oleh Ayyub dan Ibnu Aun dan Hisyam dari Muhammad secara mursal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia menyebutkan; Beliau bertakbir, kemudian tiba-tiba beliau mengisyaratkan dengan tangannya kepada jama’ah untuk duduk. Lalu beliau pergi dan mandi. (HR. Abu Dawud)
2. Shalatnya dianggap batal. (Dipelopori oleh Imam Abu Hanifah)
Dalinya: Shalat iman dan makmum tidak bisa dipisahkan, jika imam batal maka makmum pun batal.
3. Bisa sah dan bisa batal. Jika imam menyadari keadaannya maka shalat makmum batal tatapi jika tidak menyadarinya maka shalat makmum dianggap sah. (Dipelopori oleh Imam Malik)
Dalilnya:
اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ أَوْمَأَ إِلَيْهِمْ أَنْ مَكَانَكُمْ ثُمَّ دَخَلَ فَخَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنِّي كُنْتُ جُنُبًا
Beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) lalu bertakbir dan memberi isyarat kepada orang-orang agar tetap di tempat. Beliau segera masuk (rumah) kemudian keluar dengan kepala yang masih meneteskan air. Lalu beliau shalat bersama mereka. Seusai mengerjakan shalat, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, dan sesungguhnya aku tadi sedang junub.” (HR. Ahmad dari Abu Bakrah)
Diringkas Dari: Bidayatul Mujtahid Karya Ibnu Rusyd Halaman 330-331 dengan sedikit perubahan
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















