1. Setiap hamba mengetahui bahwa AL-Haq Ta’ala hanya dengan sendirinya saja menciptakan segala sesuatu seluruhnya, menguasainya, dan mengendalikannya. Dia tidak memiliki serikat dalam satu atom pun dari atom-atom alam raya ini yang merupakan sebab dan pendorong TAWAKKAL yang paling kuat.
2. Jika hal di atas (poin nomor 1) menjadi kenyataan menurut tinjauan ilmu dan pengetahuan dan seketika itu bersentuhan dengan hati, maka ia tidak akan menemukan jalan bahwa hatinya hanya akan bersandar kepada Al-Haq satu-satunya, percaya kepada-Nya, ketenangan dan ketentramannya hanya karena-Nya saja karena ia mengerti bahwa semua kebutuhan, kepentingan, dan kemaslahatannya hanya berada di Tangan-Nya dan bukan di tangan selain-Nya. Maka, dari mana hatinya akan mendapatkan TAWAKKAL setelah ini???. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)
3. Akan menjadi mustahil tercapai TAWAKKAL hingga seorang hamba beriman kepada kesempurnaan rububiyah Allah Ta’ala dengan segala yang menjadi cakupannya, berupa kesempurnaan sikap, kehendak, kekuasaan, independensi, dan pengetahuan-Nya akan segala sesuatu. Dan hanya Dia Pemilik hal yang memberikan manfaat dan bahaya. Di Tangan-Nya segala kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
4. Kita menemukan dalam berbagai ayat kaitan antara TAWAKKAL dan rububiyah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (10)
Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu Tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. (QS. Al-Mujadilah[58]: 10).
Begitu pula QS. Huud[11]: 123, Huud[11]: 56, dan al-Furqan[25]: 58
5. Akhirnya ditetapkan bahwa sebagian konsekuensi rububiyah yang tidak dipersengketakan adalah merealisir TAWAKKAL kepada Allah Azza Wa Jalla.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















