3. Adanya “La an-nahiyah” (huruf lam yang menunjukkan arti larangan)
لَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
Janganlah kamu biarkan sela-sela kosong (dalam shaf) untuk setan. (HR. Abu Dawud)
لَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
Janganlah kamu berpaling, maka hati kamu akan berpaling. (HR. Abu Dawud)
لَا تَخْتَلِفْ صُدُوْرَكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
Janganlah kamu membengkokkan dada-dada kamu, niscaya hati kamu akan berselisih. (HR. Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh Al-Albani)
لَا تَخْتَلِفْ صُفُوْفَكُمْ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
Janganlah kamu bengkok dalam shaf-shaf kamu, niscaya hati mu akan berselisih. (HR. Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh Al-Albani)
4. Banyaknya efek yang yang negatif jika tidak meluruskan shaf
اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. (HR. Muslim dari Abu Mas’ud)
وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ
Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf shaf kalian, atau Allah benar–benar akan membuat hati kalian saling berselisih. (HR. Abu Dawud dan selainnya)
5. Ancaman dari Allah Ta’ala dengan diputuskan rahmat Allah bagi yang memutuskan shaf
وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ
Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutusnya maka Allah Allah akan memutusnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dari Ibnu Umar. Dishahihkan oleh Al-Albani)
Dan ancaman ini tidak akan ditujukan kepada orang yang meninggalkan perkata yang disunnahkan.
6. Adanya penegasan Nabi untuk tidak meninggalkan sela-sela yang kosong
إِيَايَ وَالْفَرَجَ
Janganlah kamu meninggalkan sela-sela kosong, yakni dalam shalat.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















