7. Pengingkaran Anas (menganggap tidak baik) dengan tidak meluruskan shaf, sebagaimana hadits,
عَنْ بُشَيْرِ بْنِ يَسَارٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَقِيلَ لَهُ مَا أَنْكَرْتَ مِنَّا مُنْذُ يَوْمِ عَهِدْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَنْكَرْتُ شَيْئًا إِلَّا أَنَّكُمْ لَا تُقِيمُونَ الصُّفُوفَ
Dari Busyair bin Yasar Al Anshari dari Anas bin Malik, bahwa dia datang ke Madinah, lalu dikatakan kepadanya, “Apakah ada sesuatu yang kamu ingkari dari perbuatan kami sejak kamu hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Anas bin Malik menjawab, “Tidak ada sesuatu yang aku ingkari dari kalian kecuali kalian tidak meluruskan shaf dalam shalat.” (HR. Bukhari)
8. Imam Bukhari menyebutkan dengan bab بَابُ إِثْمِ مَنْ لَمْ يُتِمَّ الصُّفُوْفَ yang artinya bab dosa orang yang tidak menyempurnakan shaf dalam kitab shahihnya, berarti Imam Bukhari menganggap perkara wajib dalam meluruskan dan merapatkan shaf.
8. Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berpendapat dalam kitab Shahihnya,
a. Bab al amr bi taswiyati ash-shufuf Qabla Takbiratul ihram, (bab: Perintah untuk meluruskan shaf sebelum melakukan takbiratul ihram).
b. Bab: al amr bi itmami ash-shufuf al ula (Perintah untuk menyempurnakan shaf-shaf yang perrtama).
c. Bab al amr bi al muhadzab baina al manakibi wa al a’naq (bab: perintah untuk meluruskan punggung dan bahu).
d. Bab al amr bi sadd al furuj (bab: perintah mengisi tempat yang kosong).
e. Bab at taghlizh fi Tarki Taswiyati ash shufuf Takhawwufan li mukhalafati Ar Rabb – Azza Wa Jalla- baina al Qulub (bab: penegasan tentang meninggalkan pelurusan shaf, sebagai bentuk rasa takut kepada Rabb –Azza Wa Jalla- akan memalingkan hati [ummat Islma]).
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















