Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (QS. Ghafir[40]: 60)
Do’a dibagi dalam dua jenis
- Do’a ibadah. Doa seperti ini dipanjatkan kepada sesuatu untuk mengharap pahala darinya dan karena takut adzabnya. Doa seperti ini tidak boleh ditujukan kepada selain Allha, mengarahkannya kepada selain Allah merupakan syirik akbar (mengeluarkan pelakunya dari Islam).
- Do’a permohonan. Do’a seperti ini dipanjatkan untuk meminta atau memohon sesuatu yang dibutuhkan. Do’a jenis ini terbagi menjadi tiga bentuk:
a. Memohon seseuatu kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala yang hanya Dia saja yang mampu memberikannya. Permohonan seperti ini termasuk dalam bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dalam permohonan ini tercakup sikap merendahkan diri dan pasrah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meyakini bahwa Dia-lah satu-satunya yang Mahakuasa, Mahamulia, Mahaluas karunia dan rahmat-Nya. Barangsiapa yang memohon kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuatu yang hanya Allah saja yang mampu memberikannya, maka dia Musyrik dan Kafir, sama saja baik yang diseur itu makhluk hidup atau benda mati/
b. Memohon sesuatu kepada seseorang dan dia mampu melaksanakan atau memenuhi permohonan tersebut. Permohonan seperti ini dibolehkan. Misalnya seseorang yang mengatakan, “Wahai Fulan, berilah aku minum.”
c. Memohon kepada benda mati atau barang ghaib dengan cara seperti di atas pada poin sebeulumnya adalah perbuatan Syirik, karean orang mati atau barang ghaib tidak mungkin bisa mengabulkan permohonan. Seseorang yang memohon kepada benda mati atau barang ghaib menunjukkan bahwa dia meyakini bahwa benda mati atau barang ghaib tersebut memiliki kemampuan mengatur alam semesta. Oleh karena itu, dia dikatakan telah berbuat syirik.
Diringkas dari:
Kitab Syarah Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Shaleh al-Utsaimin
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















