Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُو فِي دِينِكُمْ … (171)
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu… (QS. An-Nisa[4]: 171)
Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”). (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab)
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ قَالَهَا ثَلَاثًا
‘Celakalah orang-orang yang suka melampaui batas.’ (Beliau mengucapkannya tiga kali). (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)
Faidah-faidah Ayat dan Hadits-hadits di Atas:
- Tiga nama yang sering dipakai yang berarti melampaui batas dalam beragama yaitu, al-Ghuluw, Ithra, dan Tanaththu. Semuanya bermaknya berlebih-lebihan.
- Tiga istilah di atas saling berdekatan kalau ghuluw berlebih-lebihan baik makna berlebihan dalam memuji maupun berlebihan dalam menghina dan merendahkan, sedangkan kata ithra (berlebihan) tetapi khusus di dalam memuji tidak dalam menghinakan begitu pula tanaththu berlebih-lebihan dalam makna memberat-beratkan baik dalam perkataan maupun perbuatan.
- Meskipun istilah tiga kata di atas berbeda namun semuanya menjadi sumber kebinasaan karena memang pada hakikatnya sesuatu yang bertentangan dengan agama.
- Tiga kata di atas juga menjadi sumber bid’ah dan syirik.
- Tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim untuk mengenali sikap ghuluw, ithra, tanaththu lalu menjauhinya.
Sumber:
Qaulul Mufid fi Syarhi Kitabit Tauhid Karya Syaikh Shaleh Al-Utsaimin
An-Nahjus Sadiid fi Syarhi Kitaabit Tauhid Karya Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh
Fathul Majid fi Syarhi Kitabit Tauhid Karya Syaikh Abdul Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















