61. Cinta merupakan puncak kedekatan dan pencarian. Para pencinta takkan bosan dalam menjalani proses panjang menuju Allah. Ketika mereka telah mencintai Allah dan menyenangi amal-amal yang membawanya kepada-Nya, saling mencintai makhluk karena-Nya, maka mereka akan hidup dengan sesama makhluk dengan saling memberi nasehat, takut jika amalnya tidak diterima, dan mereka segera ingat akan hari kiamat manakala diperlihatkan segala kelemahan. Mereka itulah para wali dan kekasih Allah yang dipilih di antara hamba-hamba-Nya, yang hanya bisa mereguk ketenangan dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah. (Raudhatul Muhibbin)
62. Yang paling menyenangkan para pencinta adalah bersunyi seorang diri dengan Kekasihnya. (Jami’ul-‘Ulum wal-hikam)
63. Rasa takut kepada Allah akan menjauhkan maksiat, rasa harap akan mengantarkan kepada ketaatan, dan rasa cinta akan membawa kepada tujuan. Ketika Allah Tahu bahwa hati perindu hanya bisa tenang setelah berjumpa dengan-Nya, maka saat itulah Dia datangkan ajal untuk menyenangkan hatinya. (Jami’ul-‘Ulum wal-hikam)
Maka Allah pun berfirman:
مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (5)
Barangsiapa yang mengharap Pertemuan dengan Allah, Maka Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Ankabut[29]: 5)
64. Kerinduan akan mendorong sang pencinta untuk segera meraih kerelaan Sang Kekasih dan bergegas berlari kepada-Nya, walau harus celaka karenanya. (Raudhatul Muhibbin)
Allah berfirman:
وَمَا أَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يَا مُوسَى (83) قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى (84)
Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, Hai Musa? berkata, Musa: “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”. (QS. Thaha[20]: 83-84)
65. Berdiam diri dengan cinta di hati jauh lebih baik dari banyak bicara tapi hati kosong dari cinta. Seorang yang memiliki dan merasakan cinta di hatinya adalah lebih baik dari orang yang banyak bicara dan memberi nasihat, sementara hatinya sunyi dari cinta. (Thariqul-Hijratain)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















