51. Kedatangan malam bagi pencinta Allah itu bagaikan kedatangan baju Yusuf di sisi Ya’kub. (Bada’il-Fawa’id)
52. Bagi pencinta, tengah malam adalah saat-saat untuk berduaan dengan Kekasihnya. Sedang bagi pendosa, akhir malam adalah saat-saat untuk memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Barangsiapa yang membuang kesempatan untuk ikut bersama para pencinta dengan Kekasihnya, maka mereka lebih rendah dari para pendosa yang mengadukan dosanya kepada Rabbnya. (Al-Mahajjah fi Sairid-Daljah)
53. Ketika hati menjauh dari cinta Allah dan enggan mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan-Nya, seraya beralih dengan mencintai makhluk, senang dengan pesona dunia dan merasa nyaman di dalamnya, maka ketahuilah bahwa hati itu buta bersama kesenangan yang diperolehnya. (Bada’i’ul-Fawa’id)
54. Barangsiapa yang dicintai Allah, maka ia dijadikan sebagai pencinta-Nya, taat kepada-Nya, dan disibukkan dengan mengingat dan mengabdi pada-Nya. (Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam)
55. Dzikir para pencinta Allah berbeda dengan dzikir orang yang lalai dari-Nya. (Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam)
Firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ … (2)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka… (QS. Al-Anfal[8]: 2)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















