41. Seorang hamba tidak disebut mencintai Allah jika tidak dibarengi dengan keikhlasan. Cinta juga merupakan implementasi dari ketaatan dan pendekatan pada Allah. (Tuhfatudz-Dzakirin)
42. Hakikat cinta bagi ahli ma’rifat adalah pengetahuan tanpa batas, namun ia hanya bisa diketahui oleh orang yang mengalami dan merasakannya langsung, dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. (Fathul-Bari)
43. Seorang pencinta tidak keberatan berusaha mencari apa yang didinginkan Kekasihnya. Hatinya puas dengan pengorbanan, yang sudah diberikan, walaupun menyusahkan tubuhnya. Karena setiap percintaan butuh pengorbanan, yang kadang bisa memberatkan hatinya. Bila Kekasihnya mengalahkan kemalasan itu, maka dibuangnya kemalasan itu demi untuk melayani-Nya. Bila Kekasihnya lebih dicintai ketimbang hartanya, maka dia campakkan harta itu merebut kecintaan-Nya. (Mukhtasar Minhajul-Qashidin)
44. Lemah dan kuatnya kenikmatan yang bisa direguk dengan Sang Kekasih tergantung pada kuat dan lemahnya cinta itu. Makin kuat cinta itu, makin besarlah kenikmatan yang bisa direguk darinya, sebagaimana besarnya kenikmatan yang bisa direguk oleh orang yang disera kehausan ketika ia menemukan air yang dingin, atau seorang yang kelaparan ketika ia mendapatkan makanan. Kualitas cinta itu bisa dicapai sesuai dengan tingkat pengenalan sang pencinta terhadap keindahan-Nya, baik lahir maupun batin. Demikian pula kelezatan dalam memandang Allah ketika sang pencinta berjumpa dengan-Nya, hal ini juga tergantung pada kadar cinta dan hasrat dirinya, serta tingkat pengetahuan tentang-Nya dan sifat kesempurnaan-Nya. Dengan demikian, pengetahuan dan pengenalan itu merupakan jalan terdekat untuk meraih kelezatan yang paling tinggi. (Miftahu Daris-Sa’adah)
45. Tidak ada sesuatu pun yang paling baik, paling menyenangkan, dan paling membahagiakan bagi hati dan kehidupan sang hamba selain meraih cinta Allah, selalu mengingat-Nya dan berusaha menggapai keridhahan-Nya. Inilah jalan untuk meraih kesempurnaan bagi seorang hamba, dan tidak ada jalan lain. (Miftahu Daris-Sa’adah)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















