31. Menghadap Allah, kembali kepada-Nya, ridha dan diridhai-Nya, mencintai-Nya sepenuh hati, tekun menyebut-Nya, riang dan senang dengan berhasil meraih ma’rifat-Nya, adalah pahala yang kontan, surga dunia, dan kenyamanan hidup yang tak tertandingi oleh kenyaman hidup raja mana pun. (Al-Wabil Ash-Shayyib)
32. Andai tidak ada balasan lain dari cinta Allah kecuali sang hamba terselamatkan dari adzab, tentu ia tak perlu lagi mencari penggganti dengan sesuatu pun. (Raudhatul-Muhibbin)
33. Kehidupan yang paling nyaman dan paling menyenangkan adalah kehidupan para pencinta, para perindu, dan orang-orang yang betah berdekatan dengan-Nya. Kehidupan mereka sungguh menyenangkan. Tak ada kehidupan yang lebih menyenangkan, lebih nikmat, dan lebih membahagiakan bagi hati selain kehidupan mereka. Dan inilah kehidupan yang baik dan bahagia. (Al-Jawab Al-Kafi)
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً … (97)
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik… (QS. An-Nahl[16]: 97)
34. Cinta itu benar dan sejati jika disertai pengorbanan harta,kekuasaan, dan kekuatan demi meraih keridhaan dan kedekatan-Nya. Bila nyawa pun ikut dikorbankan, maka itulah cinta yang paling tinggi peringkatnya. (Thariqul-Hijratain)
35. Cinta Allah kepada hamba-Nya mendahului cinta hamba kepada-Nya. Karena tanpa cinta Allah pada hamba, tidak akan tumbuh cinta Allah dalam hati hamba. Maka ketika hamba mencintai-Nya, diberinya balasan pahala dari cinta itu dengan cinta yang lebih besar. Sesungguhnya saat hamba itu mendekati-Nya sejengkal, Allah mendekatinya sehasta. Siapa yang mendekati-Nya sehasta, Allah akan mendekatinya satu depa. Siapa yang mendekati Allah dengan berjalan, maka Dia mendatanginya dengan berlari kecil. Hal ini membuktikan bahwa cinta Allah jauh lebih besar dibanding cinta hamba kepada-Nya. (Thariqul-Hijratain)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















