1. Sebaik-baik Shaf Bagi Laki-laki adalah Di Depan
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا
Sebaik-baik shaf kaum laki-laki adalah di depan, dan sejelek-jeleknya adalah pada akhirnya. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
2. Sebaik-baik Shaf Bagi Perempuan adalah Di Belakang
وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
Dan sebaik-baik shaf wanita adalah akhirnya, dan sejelek-jeleknya adalah awal shaf. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
3. Keutamaan Shaf Pertama
وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَاسْتَهَمُوا
Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang ada pada shaf pertama tentulah mereka akan berlomba meraihnya. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)
لَكَانَتِ الْقُرْعَةُ
Sungguh mereka akan mengundi. (HR. Muslim)
4. Keutamaan Shaf Sebelah Kanan
كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ
Jika kami shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami menyukai jika berada di sebelah kanan beliau, sehingga beliau menghadap kami dengan wajahnya. (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dari Al-Barra bin Azib)
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ
Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya mengucapkan shalawat untuk orang orang yang berada di shaf kanan. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dari Aisyah secara marfu’)
5. Hendaknya Orang yang Paling Utama (Ahlul Ahlam dan Ahlun Nuha) di Belakang Imam
لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثَلَاثًا
Hendaklah yang berada tepat di belakang shalatku orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka tiga kali. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)
6. Memenuhi Shaf Pertama, Baru Shaf-Shaf Selanjutnya
أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ
Sempurnakanlah shaf yang pertama, kemudian yang berikutnya. Kalaupun ada shaf yang kurang, maka hendaklah dia shaf belakang. (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dari Anas)
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
‘Mengapa kalian tidak berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya? ‘ Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya? ‘ Beliau bersabda, ‘Mereka menyempurnakan barisan awal dan menempelkan diri dalam barisan’.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dari Jabir bin Samurah)
7. Wajib Meluruskan Shaf dan Menutup Celah-celah
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
“Luruskanlah shaf kalian, atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian.” (HR. Bukhari, Muslim dari Nu’man bin Basyir)
8. Makruh Membuat Shaf di Antara Tiang
كُنَّا نُنْهَى أَنْ نَصُفَّ بَيْنَ السَّوَارِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنُطْرَدُ عَنْهَا طَرْدًا
Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami dilarang membuat shaf antara tiang-tiang, maka kami pun meninggalkannya. (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dari Muawiyah bin Murra dari bapaknya)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















