22. Lisan yang basah karena dzikrullah
Dari Malik bin Yakhamir disebutkan bahwa Mu’adz bin Jabal berkata kepada mereka, sesungguhnya ucapan terakhir yang pernah aku dengar dari Rasulullah adalah aku bertanya, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Engkau meninggal dengan lisan yang basah karena dzikrullah.” (HR. Bukhari dalam Khalqu Af’alil-Ibad dan Ibnu Sunni dengan sanad hasan)
23. Istiqamah
إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ وَكَانَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلُوا عَمَلًا أَثْبَتُوهُ
Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah, adalah amalan yang dikerjakan secara terus menerus meskipun sedikit. Dan bila keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan suatu amalan, maka mereka akan menekuninya. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad dari Aisyah)
24. Hati yang Lunak dan Lembut.
Sesungguhnya Allah punya bejana-bejana di bumi, dan bejana-bejana Rabb kalian adalah hati para hamba yang shalih. Sedang bejana uang paling dicintai-Nya adalah yang paling lunakdan paling lembut. (HR. Ath-Thabrani dari Abu Anbah al-Khaulani, Al-Albani menghasankannya)
25. Shalat pada waktunya, berbakti pada orang tua, jihad di jalan Allah
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي
‘Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku katakan: “Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Sholat pada waktunya”. Kemudian aku tanyakan lagi: ” Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua”. Lalu aku tanyakan lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah”. Maka aku berhenti menyakannya lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya aku tambah terus pertanyaan, Beliau pasti akan menambah jawabannya kepadaku”. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, dan Ad-Daarimi)
26. Beriman kepada Allah, Menjalin Silaturrahim dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dari seorang lelaki Khats’am, ia berkata: Sya mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat bersama para sahabat, lalu saya bertanya, “Andakan yang mengaku Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Ya” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling dicintai Allah? Nabi menjawab, “Iman kepada Allah” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Nabi menjawab, “Silaturrahim” Aku bertanyalagi, “Lantas apa lagi?”Aku pun bertanya lagi, “Lantas apa lagi?” Nabi menjawab, “Amar ma’ruf Nahi munkar.”… (HR. Abu Ya’la)
27. Memperbanyak Sujud
مَعْدَانُ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ الْيَعْمَرِيُّ قَالَ لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِي اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ أَوْ قَالَ قُلْتُ بِأَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
Ma’dan bin Abi Thalhah al-Ya’mari dia berkata, “Aku bertemu Tsauban, maula Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku dengan suatu amal yang jika kukerjakan niscaya Allah akan memasukkanku ke dalam surga disebabkan amal tersebut, -atau dia berkata, aku berkata, ‘Dengan amalan yang paling disukai Allah-, lalu dia diam, kemudian aku bertanya kepadanya, lalu dia diam kemudian dia bertanya kepadanya yang ketiga kalinya.’ Dia menjawab, ‘Aku telah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka dia menjawab, ‘Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah dengan suatu sujud melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dengannya, dan menghapuskan dosa darimu dengannya’.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Awanah)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















