SYUBHAT KELIMA:
Para penyembah hawa nafsu mengatakan “Nabi Adam saja bertawassul kepada Nabi Muhammad, berarti betawassul dengan dzatnya bukan dengan doanya. Berdasarkan hadits:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ مَرْفُوْعًا: لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَ الْخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِيْ فَقَالَ: يَا آدَمَ وَ كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ؟ قَالَ: يَا رَبِّ لَمَّا خَلَقْتَنِيْ بِيَدِكَ وَ نَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِيْ فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمَ الْعَرْشِ مَكْتُوْبًا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تَضُفَّ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ فَقَالَ: غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْ لَا مُحَمَّدُ مَا خَلَقْتُكَ
Dari Umar bin Khaththab –secara marfu’-: “Tatkala Adam mengakui dosa-dosanya maka dia berkata, ‘Yaa Allah aku minta dengan hak Muhammad jika Engkau tidak mengampuniku.’ Maka Allah berfirman, ‘Hai Adam, bagaiman engkau bisa mengetahui Muhammad yang belum Aku ciptakan?’ Adam berkata, ‘Yaa Rabbi mengapa Engkau ciptakan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan roh kepadaku kemudian aku angkat kepalaku dan aku melihat di tiang Arsy tertulis: ‘Laa Ilaha illallah Muhammad Rasulullah’, maka aku mengetahui tidaklah Engkau sandingkan nama seseorang dengan nama-Mu selain yang kepada makhluk yang Engkau cintai.’ Maka Allah berfirman, ‘Aku ampuni dosamu, seandainya bukan karena Muhammad maka tidaklah Aku ciptakan dirimu.’” (HR. Al-Hakim)
TANGGAPAN:
1. Hadits ini bertentangan al-Qur’an, inilah yang menguatkan para ulama yang mengatakan akan kepalsuan dan kebathilan hadits ini karena bertentangan dengan al-Qur’an dalam dua faktor:
a. Hadits ini berisi bahwa ampunan Allah kepada Adam karena sebab tawassulnya dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sedangkan firman Allah menjelaskan tidak seperti itu sebagaimana firman-Nya:
فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (37)
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah[2]: 37)
Jadi berdasarkan ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima taubat Nabi Adam tidak ada sama sekali riwayat yang shahih bahwa beliau bertawassul dengan kebesara Nabi Muhammad.
b. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman dalam al-Qur’an yang mempertegas bahwa beliau mengampuni Nabi Adam alaihis salam karena atas doanya Nabi Adam langsung kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (23)
Keduanya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf[7]: 23)
Maka dengan ayat ini semakin jelaslah riwayat yang menjelaskan Nabi Adam bertawassul kepada Nabi Muhammad adalah kebathilan yang bertentangan denganal-Qur’an sendiri yang tidak diragukan lagi keshahihannya.
2. Maka bagi orang yang memiliki ilmu kaidah-kaidah berdalil tentu tidak mungkin mau menggunakan hadits yang remang-remang, tidak jelas apalgi dihukumi palsu lalu mau meninggalkan al-Qur’an.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















