SYUBHAT KETIGA:
Para penyembah hawa nafsu mengatakan “Kita boleh bertawassul kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada waktu hidupnya dan setelah wafatnya. Berdasarkan hadits:
تَوَسَّلُوْا بِجَاهِيَ فَإِنَّ جَاهِيَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ
Bertawassullah dengan diriku karena diriku di sisi Allah adalah besar!
Sebagian mereka meriwayatkan dengan redaksi:
إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيَ فَإِنَّ جَاهِيَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ
Jika kalian minta kepada Allah maka mintalah dengan diriku karena diriku di sisi Allah adalah besar.
TANGGAPAN:
1. Hadits di atas adalah bathil yang tidak ada asal usulnya dalam kitab-kitab hadits sebagimana disinyalir oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (al-Qaidah al-Jalilah hal. 132)
2. Walaupun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam lebih besar dari diri semua para Nabi dan Rasul akan tetapi diri makhluk di sisi Pencipta tidaklah sama dengan diri makhluk di sisi makhluk. (al-Qaidah al-Jalilah hal. 150)
3. Makhluk sebesar apapun dan seshaleh apapun tidak akan memberikan syafaat (pertolongan) tanpa seizin dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (23)
Dan Tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: (perkataan) yang benar”, dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Saba[34]: 23)
4. Meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki kedudukan yang sangat agung dan sangat dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan tetapi tidak boleh kita melakukan rukuk dan sujud kepada beliau sebagaimana sebagian manusia melakukan rukuk dengan membungkuk bahkan sujud kepada sebagian manusia lainnya yang mereka hormati dan agungkan dalam syariat Islam sangat ditentang perbuatan tersebut meskipun kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam baik di masa hidup lebih-lebih setelah beliau wafat
5. Maka dengan demikian kemuliaan Nabi di sisi Allah tidak diragukan sedikitpun akan tetapi tidak boleh otomatis kita bertawassul akan keagungan dan kebesaran beliau setelah beliau wafat.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















