Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am[6]: 82)
Petunjuk-petunjuk ayat di atas:
- Orang yang bertauhid pasti aman dari ketakutan adzab dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. (Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Manan — Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)
- Kedudukan orang yang bertauhid dengan tidak mencampur adukkan iman dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang yang mendapat keamanan di dunia dan di akhirat. Dalam kehidupan mereka kepada jalan kebahagiaan dan kesempurnaan mereka yaitu Islam yang benar (shahih). (Aisar at-Tafaasir li al-Kalaami al-Aliyyi al-Kabiir — Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)
- Orang yang bertauhid adalah orang-orang yang mengikhlashkan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mereka juga tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, mereka itulah orang-orang yang pada hari kiamat kelak akan mendapat keamanan dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat. (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir — Ibnu Katsir)
- Yang dimaksud dengan azh-zhulmu (kezhaliman) di sini adalah sesuatu yang membaurkan keimanan kepada Allah Ta’ala, sehingga keimanan itu berkurang, yaitu syirik di dalam akidah atau ibadah. Umpamanya menjadikan penolong selain Allah, yang bersamanya. Maka, ia diagungkan seperti Dia diagungkan, dan dicintai seperti Dia dicintai, karena keyakinan bahwa ia kuasa untuk mendatangkan manfaat atau kemudharatan dengan sendirinya, atau dengan paengaruh terhadap kehendak dan kekuasaan Allah Ta’ala. (Tafsir al-Maraghi — Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi)
- Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kemusyrikan akan mendapatkan keutamaan yang sangat besar yaitu keamanan dari malapetaka dan mendapat petunjuk di dunia. (Tafsir al-Qurthubi — Syaikh Imam al-Qurthubi)
- Orang yang membernarkan Allah dan hanya beribadah kepada-Nya serta tidak mencampurkan ibadahnya adalah orang yang lebih berhak mendaptkan keamanan dari siksaan Allah dari pada orang yang menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain Allah. Di dunia mendapatkan murka dan di akhirat mendapatkan siksa. (Tafsir ath-Thabari — Imam ath-Thabari)
- Orang yang bertauhid dengan tidak mencapurkan dengan kesyirikan lagi imannya, maka Allah istiqamahkan dalam keimanan dan hidayah. (Tafsir Adhwa’ul Bayan — Syaikh Asy-Syanqithi)
- Allah menjelaskan golongan yang paling berhak atas keamanan dan keselamatan adalah orang yang bertauhid dan tidak lagi bercampur imannya dengan kesyirikan, maka mendapat jaminan dari Allah di angkat derajatnya dengan derajat beriman, berilmu, hikmah, dan taufiq. Di dunia selamat di akhirat dapat Surga. (Tafsir Al-Wasith — Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)
- Orang yang beriman dan mengikhlashkan diri kepada Allah, tidak mencampur adukkan keimanan dan kemusyrikan dalam beribadah, berbuat taat, berprilaku, itulah yang berhak mendapatkan keamanan dari adzab dan berhak mendapatkan petunjuk. (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an — Sayyid Quthb)
- Orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, mereka tidak mencapur adukkan iman mereka dengan syirik, mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan ketenangan, mereka adalah orang-orang yang dibimbing ke jalan yang benar. (At-Tafsir al-Muyassar — Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh & Syaikh Bakar Abu Zaid)
- Kezhaliman yang paling zhalim yaitu syikrik terhadap hak Allah. Hanya dengan menghilangkan kezhaliman maka rasa aman tercapai di dunia dan di akhirat. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid — Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin)
- Keutamaan orang yang bertauhid mendapatkan garansi dari Allah tentang ketenangan hidupnya dan kebahagiaannya di akhirat dan jaminan tersebut di tuntun hidupnya dengan tidak plin-plan serta mendapatkan keberanian untuk menolak ketundukan kepada selain syariat Allah. (Penulis)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















