Tajdidul Iman sebagai salah satu bagian dari gerakan dakwah, gerakan pendidikan dan sosial, memiliki tanggung jawab dalam membina ummat serta senantiasa mengamalkan sunnah. Salah satu sunnah yang dimaksud adalah dengan berqurban.
Hal ini diungkapkan Founder Tajdidul Iman (TI) KH Sudirman, S.Ag. di kediamannya di Rappokalling, Tallo kota Makassar Rabu, 29/5/2024 pagi. Dia juga berharap melalui Idul qurban ini, umat Muslim diajarkan untuk berbagi rezeki dengan orang lain, terutama bagi mereka yang kurang beruntung.
“Olehnya itu kami selalu mengajak kaum muslimin untuk mengamalkan salah satu sunnah ini yang sangat besar. Bahkan sebagian ulama memandangnya hal yang wajib dan sebagian (ulama) memandangnya sebagai perkara Sunnah” ungkap Kiai Sudirman.
Namun sambung Kiai Sudirman, sebagian masyarakat selalu ada yang menganggap ibadah qurban ini, cukup dilaksanakan sekali selama hidup. Padahal syari’at yang benar, menurut Kiai Sudirman adalah setiap tahun sekali bagi orang yang mampu.
“Karena ada juga orang yang diajak berkurban, dia katakan dirinya telah berqurban tahun lalu. Padahal ini ibadah qurban setiap tahun, bukan sekali seumur hidup” jelasnya.
TajdiduI Iman, sambung Kiai Sudirman selalu antusias dan istiqamah menegakkan sunnah Qurban ini sebagai sesuatu yang sangat penting, karena ibadah tersebut adalah ibadah setiap tahun, bukan ibadah seumur hidup.
“Nabi saw bersabda : “Yaa ayyuhannas ‘ala kulli ahli baitin fi kulli ‘amin udhiyyah. (Wahai para manusia, sesungguhnya pada setiap ahli rumah diperintahkan untuk berqurban pada setiap tahun)”. Jadi sekali lagi bukan seumur hidup tapi setiap tahun” tegas Kiai Sudirman mengutip hadist tersebut.
Yang dimaksud ibadah seumur hidup itu, kata Kiai Sudirman seperti, Aqiqah, khitan atau sunatan. “Itu cuma dilaksanakan sekali seumur hidup. Beda dengan Qurban, yang dilaksanakan setiap tahun” Jelas Kiai Sudirman yang juga wakil ketua PD Muhammadiyah kota Makassar.
Hal ini juga kata Kiai, bukan seperti arisan, “Sudah si suami berqurban, maka tahun depan Istrinya lagi yang berqurban, atau anaknya. Sudah itu, keluarga ini istirahat. Seolah-olah ibadah sunnah ini sudah berhenti. Padahal tidak, Ibadah ini lebih menekankan kepada amalan bagi seluruh keluarga dan pahalanya sangat besar” katanya
Kiai mencontohkan Rasulullah SAW memiliki banyak istri, tapi saat beliau berqurban, tidak ada satupun nama istrinya yang diikutkan melainkan atas nama Rasulullah dan seluruh keluarganya.
“Dalam hadist yang diriwayatkan Muslim no. 1967, Beliau (Rasulullah SAW) selalu berdoa dengan ucapan sebagai berikut “Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad (Artinya: dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah Qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad).” Jelas Kiai Kharismatik ini.
Kiai Sudirman juga berharap agar pada Qurban tahun 1445 H ini, dapat membawa berkah bagi bangsa dan Negara, “Mudah-mudahan TI sukses mempraktekkan amalan sunnah berqurban ini. Alhamdulillah dengan komunitas dakwah yang dibina langsung oleh TI, Insya Allah semuanya pada berqurban. Jika kita kumpul, kemungkinan sampai ratusan ekor sapi di sembelih dari jamaah yang kita bina untuk disalurkan kepada mereka yang berhak” kunci Kiai Sudirman. (Tim)






















