- Mandi hari Jum’at (sebagian berpendapat wajib). (HR. Bukhari no. 897, Muslim no. 849 dari Abu Hurairah; HR. Muslim no. 857 dari Abu Hurairah; HR. Abu Dawud no. 343 diliai hasan oleh Syaikh al-Albani; HR. Abu Dawud no. 345, an-Nasa’i no. 1379, Tirmidzi no. 496 dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi; HR. Abu Dawud no. 354, Tirmidzi no. 497, an-Nasa’i no. 1378 dan dinilai hasan oleh Tirmidzi)
- Mandi ketika hendak ihram. (HR. ad-Darimi no. 1801, at-Tirmidzi no. 830, Ibnu Khuzaimah no. 2595 dan dinilai shahih oleh al-Albani dari Zaid bin Tsabit)
- Mandi ketika memasuki kota Mekkah. (HR. Bukhari no. 1574, Muslim no. 1259 dari Ibnu Umar)
- Mandi pada setiap melakukan hubungan badan. (HR. Abu Dawud no. 219, Ibnu Majah no. 590 dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dari Abu Rafi’)
- Mandi setelah memandikan jenazah. (HR. Ahmad (II/280, 433, 472, 415), Abu Dawud no. 3161, Tirmidzi no. 993 dan dinilai hasal oleh ‘Abdul Qadir al-Arna’uth dari Abu Hurairah; HR. Abu Dawud no. 3161 dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dari ‘Aisyah)
- Mandi setelah mengubur orang musyik. (HR. Abu Dawud no. 3214, an-Nasa’i no. 190 dari ‘Ali bin Abi Thalib)
- Mandi bagi wanita yang mengalami Istihadhah setiap akan shalat atau pada saat menjamak antara dua shalat. (HR. Abu Dawud no. 292 dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dari ‘Aisyah)
- Mandi setelah siuman dari pingsan. (HR. Bukhari no. 687, Muslim no. 418 dari ‘Aisyah)
- Mandi setelah berbekam (Hijaamah). (HR. Abu Dawud no. 3161 dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari ‘Aisyah)
- Mandi pada hari raya (‘Idul Fitri dan ‘Idhul Adha). (Lihat Irwaa-ul Ghaliil (I/177); HR. al-Fayrabi sanadnya dinilai shahih oleh al-Albani)
- Mandi Hari Arafah. (Atsar dari ‘Ali)
Diringkas Dari:
1. Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fii Fiqhil Kitaab was Sunnah al-Muthah-harah (Karya Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah)
2. Shalatul Mu’min Mafhuum wa Aadaab wa Anwaa wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitaab wa Sunnah (Karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani)
3. Shahih Fiqh as-Sunnah Wa Adillatuhu wa Taudhih Madzhab al-A’immah (Karya Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















