Keluarga besar Yayasan Tajdidul Iman (YTI), kembali berduka setelah ayah dari salah satu dewan pengawas YTI, Nur Adzan bernama H.M. Nurdin Hakka (kelahiran 10 Februari 1945 atau berusia 81 tahun berpulang ke Rahmatullah), Sabtu 27 Juni 2026.
Kiai Sudirman sebagai pembina dan pendiri YTI langsung memberi pesan nasehat kepada Nur Adzan dan meminta agar dirinya sabar dalam menghadapi cobaan tersebut
Allah SWT, kata Kiai Sudirman telah menjanjikan balasan yang besar, pahala tanpa batas, dan ketenangan hati bagi setiap hamba-Nya yang bersabar dalam menghadapi ujian. Dirinya juga meminta agar seluruh keluarga Tajdidul Iman dapat saling mengokohkan dan menguatkan jika ada salah satu keluarganya yang di timpa musibah.
“mari kita tetap kita saling mengokohkan, saling menguatkan, semoga kesabaran kita dalam menghadapi cobaan ini menjadi tambahan pahala atas keridhaan kita menerima takdir Allah.” Ungkap Kiai Sudirman.
“Kita sudah diikatkan dengan satu garis perjuangan di Tajdidul Iman, jadi jika ada satu keluarga yang berduka, maka semua warga Tajdidul iman harus merasakannya, dan semoga dari cobaan ini mampu kita hadapi dan jalani dengan penuh kesabaran” tandas Kiai Sudirman.
Dari keterangan Nur Adzan, almarhum ayahnya memiliki 6 orang anak, dan 20 orang cucu serta 1 cicit. Nur Adzan sendiri merupakan anak Sulung dari pasangan almarhum H.M. Nurdin Hakka dan ibunya Hj. Muliyati yang telah berpulang 5 tahun lalu.
“Semasa hidupnya, almarhum ayah saya, adalah muballigh dari masjid ke masjid di seputaran kecamatan Tanete Rilau. Beliau juga tak segan segan keliling masjid untuk adzan shalat” ungkap Nur adzan.
Riwayat pekerjaan almarhum era 1965-1970, sambung Nur Adzan pernah menjadi guru di PGA, dan Muallimin di PekkaE, sekolah cokroamlnoto di BottoE.
“Ada banyak muridnya saat itu beliau itu mantan PNS sebagai Perawat bertugas di Majene thn 1970an, era 1975 pindah ke RSUD Barru. Tahun 1982-1984 almarhum melanjutkan studi di Jakarta di Akademi Anastesi 4 thn kuliah kembali ke Barru dan Parepare sebagai tenaga kesehatan ahli anestesi.” Jelas nya.
Almarhum juga kata Nur Adzan pernah menjadi petugas negara jsebagai tim kesehatan haji Indonesia (1981/1982) “Beliau 2 kali naik tanah suci. Yang pertama tahun 1973
Di kanpungnya di BottoE KelnLalolang almarhum dikenal sebagai mantri dari rumah ke rumah yang melayani warga sampai ke Segeri Labbakkang Pangkep untuk melakukan khitanan / sunnat sambil berdakwah
“Karakternya memang suka menolong. Beliau juga memiliki pendirian yang kokoh dalam melaksanakan sholat tepat waktu, Jika waktu sholat, pekerjaan apapun beliau tinggalkan. Sungguh kami merasa kehilangan, namun banyak hikmad yang dapat kami petik dari perjalanan hidup beliau” papar Nur Adzan.
Disisi lain, Nur Adzan juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak YTI, utamanya Kiai Sudirman dan ketua Yayasan, Ustad Ahmad Baduddin yang telah memberi support kepada diri dan keluarganya.
“Atas nama keluarga almarhum, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi tingginya atas dukungan dan bantuan pengurusan jenazah serta ambulans YTI terhadap ayah kami. Semoga Allah SWT, membalas segala budi baik keluarga besar PJTI di bawa komando pembina YTU ust KH Sudurman” tandas Nur Adzan.
Almarhum dikebumikan pada hari itu juga setelah shalat Azhar di masdjid Mujahidun BottoE berlokasi di Lingkungan Lalolang, Kelurahan Lalolang, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru. Nampak hadir Ketua PPM Sulsel mantan sekprov Sulsel, H Abdul Hayat Gani yg sekarang menjabat sebagai Ketua Partai Perindo Sulsel dan puluhan karangan bunga dikediaman almarhum. (tim)





















