Tidak disangka jumlah jamaah yang mengikuti, buka puasa dan shalat maghrib bersama dalam rangka kegiatan Safari Dakwah Akbar Dzulhijjah 1447 H hari ke empat, berjubel memenuhi halaman samping dan belakang masjid Al Muraqabah di Jalan Bonto Duri 3 No.18, Kelurahan Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (21/5/2026).
Dari pantauan wartawan media ini, masjid dua lantai tersebut terlihat sudah mulai disesaki jamaah menjelang buka puasa hingga harus antri untuk mengambil air Wudhu
“Baru kali ini masjid kami penuh sesak, adapi acaranya pak kiai Sudirman” terang Anto warga sekitar yang mengaku sering mengikuti kajian yang dibawakan Kiai Sudirman pendiri sekaligus pembina Yayasan Tajdidul Iman (YTI).
Dalam tauziahnya, Kiai Sudirman kembali mengupas masalah ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS dengan thema kajian spesial hari ke empat berjudul DEMI AQIDAH, API DAHSYAT HARUS KUHADAPI.
dalam Al-Qur’an kata Kiai Sudirman, Kisah Nabi Ibrahim menggambarkan perjuangan seorang nabi dalam menegakkan tauhid di tengah masyarakat penyembah berhala.
Dikenal sebagai Khalilullah (kekasih Allah), Nabi Ibrahim menghadapi berbagai ujian berat, mulai dari penolakan keluarga hingga pengorbanan besar demi keimanannya hanya kepada Allah SWT.
“Ujian berat datang ketika Namrud memerintahkan Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup karena menentang penyembahan berhala. Namun, Allah menyelamatkannya dengan membuat api menjadi sejuk, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Anbiya ayat 69. Mukjizat ini mengajarkan bahwa Allah selalu melindungi hamba-Nya yang teguh pada kebenaran.” Jelas Kiai Sudirman.
Sebelumnya, Kiai juga menyoroti keberanian Nabi Ibrahim yang berhasil menghancurkan berhala-berhala di kuil masyarakatnya. “Dalam Surah Al-Anbiya ayat 58, ia menghancurkan berhala kecuali yang terbesar untuk membuktikan bahwa berhala tidak memiliki kekuatan. Tindakan ini relevan bagi milenial untuk melawan “berhala modern” seperti materialisme atau popularitas yang bertentangan dengan nilai Islam.” Tegas Kiai Sudirman.
Rencanannya kegiatan Safari Dakwah ini berlangsung hingga pada 9 Dzulhijjah 1447 H atau sehari sebelum Idul Adha dengan bersafari pada 9 masjid yang berbeda se kota Makassar.
Uniknya kegiatan ini juga dibarengi dengan puasa Dzulhijjah lalu berbuka dan shalat Maghrib sebelum kajian dimulai. (tim)





















