Kiai Sudirman, Kupas Masalah Tauhid
Pelaksanaan safari akbar bulan Zulhijjah yang dilaksanakan yayasan Tajdidul Iman di masjid Fajar Shodiq jalan Landak Baru Makassar, Senin 18 Mei 2026 yang bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1447 H berlangsung dengan sukses.
Beberapa jamaah yang terlambat hadir bahkan mengaku, kendaraan yang ditumpanginya terjebak macet di sekitar jalan AP. Pettarani, akibat banjir setinggi 20 cm di jalan Sultan Alauddin hingga kendaraan dari arah barat ke timur harus pelan dan antri.
Dalam tauziahnya, pembina sekaligus pendiri Yayasan Tajdidul Iman KH Sudirman mengupas tuntas masalah Tauhid, seperti yang telah diajarkan nabi Ibrahim AS.
“Tauhid Nabi Ibrahim AS adalah fondasi akidah Hanif (lurus) yang mengajarkan keyakinan mutlak pada keesaan Allah SWT (tauhid) serta penolakan total terhadap segala bentuk kemusyrikan. Inti perjuangannya berpusat pada mengesakan Allah dalam rububiyyah dan uluhiyyah, serta kepasrahan total kepada-Nya” ujar Kiai Sudirman.
Penolakan Tradisi Nenek Moyang
Kiai juga meminta kepada seluruh jamaah untuk bersandar, berharap dan meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain. Apalagi tambah kiai Sudirman, mengikuti ajaran nenek nenek moyang yang tidak ada tuntunannya dalam agama, bahkan mengandung kesyrikan kepada Allah SWT.
“Saat itu, Ayah nabi Ibrahim AS, bersikeras menolak ajaran tauhid dan memilih untuk tetap setia pada ajaran dan tradisi nenek moyang mereka yang menyembah patung. Meski berulang kali diperingati oleh Nabi Ibrahim AS. Namun sang ayah justru marah, mengancam akan merajam (melempar batu), dan mengusir Ibrahim jika ia tidak berhenti berdakwah.” Ujar Kiai.
Saat inipun sambung Kiai Sudirman, kejadian serupa terus berulang. Dimana sebahagian umat manusia saat ini telah menjadikan handphone miliknya sebagai Tuhan, Naudzubillah!
“Kita saksikan bersama, ada sebahagian dari kita yang memandang handphone (sambil mengangkat handphone miliknya ke atas-red) sebagai sesembahan. Ia tidak bisa berbuat apa apa tanpa handphone tersebut, Ini yang fatal. Disisi lain masih banyak orang yang bersandar dengan ajaran nenek moyang seperti memasang dupa di rumah rumah mereka yang katanya untuk mengundang 3 dewa bersatu dalam sarana (dupa) tersebut, seperti Dewa Angin, Dewa Api dan Dewa Air.” Papar Kiai.
Sehingga melalui Safari Dakwah Dzulhijjah 1447 H, dengan thema kajian hari pertama, Beriman, itu Berani Berbeda, Bukan Mengikuti Trend, Kiai berharap agar kita mempedomani ajaran Tauhid Nabi Ibrahim AS.
“Pendidikan aqidah Nabi Ibrahim adalah menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang seutuhnya, totalitas tunduk dan berserah diri kepada sang Maha Pencipta serta memiliki akhlak yang mulia. Bukan ditolo-toloi (dibodoh bodohi-red) dan bukan men-tolo-toloi (membodoh-bodohi-red)” tandas Kiai.
Pada kegiatan tersebut turut dihadiri dewan pembina YTI, Prof DR. Fatta Bundu, Ketua YTI, ustad Ahmad Baduddin, Dewan pengawas, Ustad Nur Adzan, Wakil ketua YTI, ustad Awaluddin, Pengurus dan Pembina IMTI serta ratusan jamaah masjid dan Tajdidul Iman. (*)




















