Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)…
… Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ … (51)
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut… (QS. An-Nisa[4]: 51)
APA DAN SIAPA THAGHUT ITU???
Bagian 5
HAWA NAFSU
1. Hawa nafsu di sini dalam arti kecendrungan, kecintaan dan kerinduan. Hawa nafsu tempat masuk kebenaran daan kejahatan. Juga dalam arti keinginan dan angan-angan terhadap sesuatu. Hawa nafsu diri berarti keinginan diri. Allah Ta’ala berfirman:
وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40)…
… Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (QS. An-Nazi’at[79]: 40)
2. Hawa nafsu menjadi thaghut dan sembahan dalam beberapa bentuk dan keadaannya adalah ketika ia diikuti dan ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Juga ketika ia dijadikan sumber memutuskan hukum terhadap segala sesuatu. Apa saja yang menurut pandangan hawa nafsu benar maka itu adalah kebenaran dan apa saja yang menurut pandangan hawa nafsunya batil maka ia adalah kebatilan, meskipun semua pandangan itu menyelisihi syariat Allah Ta’ala.
3. Hawa nafsu menjadi tahghut dan sembahan juga ketika loyalitas dan pemusuhan ditegakkan karena hawa nafsu, dimana ia menyerahkan loyalitasnya kepada siapa yang disukai hawa nafsunya, bukan kepada siapa yang harus diloyali. Serta ketika ia memusuhi orang yang menurut hawa nafsunya perlu dimusuhi, meskipun kewajiban syar’i mengharuskan ia harus loyal kepadanya.
4. Dalam bentuk ini, hawa nafsu menjadi ilah yang disembah selain Allah, pelakunya pada hakekatnya menyembah apa yang disukai hawa nafsunya dan ia telah menjadikannya tandingan bagi Allah Ta’ala.
5. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (28)…
… Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi[18]: 28)
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43)
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al-Furqan[25]: 43)
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















