BEBERAPA HAL TABARRUK YANG DILARANG
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى … (125)…
… Dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat… (QS. Al-Baqarah[2]: 125)
Dan Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
Faidah-faidah Ayat dan Hadits di Atas:
- Beberapa hal yang dilarang oleh Islam dalam hal mencari berkah dengannya. Yaitu hal-hal yang telah ditetapkan oleh syariat mengenai pelarangannya dan peringatan agar tidak melakukannya, hal-hal yang melampaui batasan-batasan pencarian berkah yang disyariatkan, dan hal-hal yang tidak memiliki sandaran sama sekali dari syariat.
- Hukum asal dalam ibadah adalah tidak boleh (haram) kecuali yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya sekalipun hal itu dianggap baik oleh akal.
- Nabi shallalllahu alaihi wa sallam menganjurkan kepada kita agar berpegang teguh kepada sunnah beliau dan sunnah para khulafaur rasyidin karena di situ terdapat petunjuk dan kemenangan dan larangan keras untuk mengada-adakn perkara baru dalam agama karena di situ terdapat keburukan dan kesesatan.
- Berikut ini beberapa cara mencari berkah yang terlarang:
a. Mencari berkah kepada Nabi setelah beliau wafat berupa mengusap atau mencium makam beliau, berdoa menghadap kepadanya, meminta berkah, bertawassul, dan beristighatsah kepadanya.
b. Tabarruk dengan tempat-tempat yang pernah di duduki atau Nabi shalat di dalamnya, seperti tempat duduk, tempat shalat, tempat tidur. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mensyariakan bagi kaum muslimin adanya suatu tempat tertentu yang di tuju untuk melakukan suatu shalat kecuali Masjid dan tidak adanya suatu tempat yang dituju untuk melakukan ibadah selain tempat melakukan manasik haji seperti, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
c. Bertabarruk pada anggota tubuh Rasulullah seperti rambut, telapak kaki, tongkat, dan lain-lain.
d. Bertabarruk pada tempat kelahiran Rasulullah, seperti meniatkan shalat khusus pada tempat itu, semua ini tidak disyariatkan
e. Bertabarruk dengan tempat Isra dan Mi’rajnya Rasulullah, baik waktu maupun tempatnya tidak ada riwayat sahabat dan tabi’in melakukannya.
f. Tabarruk dengan jasad dan benda-benda peninggalan orang shaleh sesudah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
g. Bertabarruk dengan kuburan orang shaleh.
h. Tabarruk kepada tempat-tempat tertentu, seperti gunung, sumur, pohon, batu yang tidak ada penjelasannya
Sumber:
Kitab At-Tabarruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu Karya Dr. Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Junda’i






















