A. Berlomba-lomba dalam Ketaatan
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ … (148)…
“…Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. …” (QS. Al-Baqarah[2]: 148)
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)…
“… Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin[83[: 26)
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى (4)
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail[92]: 4)
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ … (21)
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga” (QS. Al-Hadid[57]: 21)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ … (133)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi…” (QS. Ali-Imran[3]: 133)
…لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا
“Seandainya manusia mengetahui (kebaikan) apa yang terdapat pada panggilan shalat dan shaf pertama lalu mereka tidak dapat meraihnya melainkan dengan mengundi tentulah mereka akan mengundinya…” (HR. Bukhari, Muslim, Malik, an-Nasa’i, dan Ahmad dari Abu Hurairah)
اَنَا سَابِقُ الْعَرَبِ، وَصُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّوْمِ، وَسَلْمَانُ سَابِقُ فَارِسِ، وَبِلاِلٌ سَابِقُ الْحَبَشِ
“Aku adalah orang Arab paling awal (yakni masuk surga). Shuhaib adalah orang Romawi yang paling awal. Salman adalah orang Persia yang paling awal. Dan, Bilal adalah orang Habasyah (Ethiopia) yang paling awal. (HR. ath-Thabrani dalam Majmu’ Kabir)
B. Perlombaan Menuju Shalat Berjamaah
1. Diantara amal kebaikan adalah bersegera menuju shalat di masjid dan tidak terlambat dari shalat jamaah.
2. Terlambat dalam mendirikan shalat adalah bukti dari kelalaian hati, ada tanda-tanda sifat malas dan jauhnyadari berlomba dalam kebaikan.
3. Terlambat atau berada pada shaf terakhir hukumnya adalah makruh dan bukan pada perkara shalat saja tetapi berlaku untuk seluruh ketaatan.
لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ
Jika suatu kaum membiasakan diri melambat-lambatkan shalatnya, maka Allah juga melambatkan diri memasukkannya ke surga, atau melambatkan diri untuk mengentaskannya dari neraka. (HR. Muslim)
C. Keteladanan Para Sahabat dan Para Tabi’in dalam Berlomba Shalat Berjamaah
- Para shalafush shalih telah memberikan contoh yang sangat baik tentang bersegera menuju shalat, dahulu jika mereka terlewatkan dari takbiratul ihram merekapun menta’ziyah diri mereka selam tiga hari, dan jika terlewatkan shalat jamaah merekapun menta’ziyah diri mereka selama sepekan. (Tuhfatul Ahwadzi bi syarh jami At-Tirmidzi karya Al-Mubarakfury [2/45])
- Ady bin Hatim mengatakan, “Tidaklah masuk waktu shalat kecuali aku telah merindukannya, dan tidaklah didirikan shalat selama keislamanku kecuali aku telah dalam keadaan berwudhu.” (Az-Zuhd Karya ibn Mubarak [10/460], Siyar a’lam an-nubala karya Adz-Dzahabi [3/164])
- Dan Abu Asy’ats Rabi’ah bin Yazih berkata, “Tidak lah dikumandangkan adzan untuk shalat Shubuh sejak 40 tahun kecuali aku telah berada di masjid, kecuali jika aku sakit atau sedang musair.” (Thabaqat ulama al-qaerawan wa ifriqiyah [1/84])
- Adapun dari kalangan tabi’in, Sa’id bin Al-Musayyaib berkata, “Tidaklah dikumandangkan adzan sejak 30 tahun kecuali aku telah berada di masjid dan aku tidak pernah tertinggal dari takbiratul ula sejak 50 tahun, dan aku tidak pernah melihat tumit seseorang dalah shalat (selalu berada pada shaf pertama).” (Siyar a’lam an-nubala karya Adz-Dzahabi [4/221], Sifatu as-safwah karya Ibnul Jauzy [2/80])
- Ibrahim An-Nakhai ra: Jika engkau melihat seseorang yang memudah-mudahkan menghadiri takbir pertama maka berlepas dirilah darinya.
- Al-A’masy sangat semangat mengejar takbir pertama bahkan sampai umur 70 tahun tidak pernah ketinggalan takbir pertama.
Penulis: KH. Sudirman, S.Ag.
(Tokoh Muhammadiyah dan Pembina Yayasan Tajdidul Iman)






















